Friday, August 29, 2008

Jika Ketilang, Mintalah Slip Biru

Surat elektronik itu muncul di inbox email saya. Subjeknya, ….Slip Biru. Langsung saya buka. Isinya mengenai seruan untuk meminta slip biru kepada polisi lalu lintas saat kita melanggar lalu lintas. Dengan surat tilang biru itu, Anda tinggal membayar denda ke bank dan membawa bukti pembayaran ke kantor polisi, tempat Anda kena tilang. Denda itu masuk ke negara. Bukan ke kocek pribadi, seperti sering kita dengar dengan istilah “damai”.

Pada 10 Agustus, surat tilang biru itu tidak ada lagi. Petugas yang berjaga di pertigaan Ramanda Depok yang mengeluarkan pernyataan itu. Ketika saya melanggar lampu merah, saya langsung minta slip biru. Saya mengakui kesalahan. Makanya saya tidak mau dikasih slip merah. Namun saat saya minta, polisi itu berujar, “Slip biru sudah tidak ada.” Sejak kapan? “Sudah lama,” kata petugas itu. Akhirnya saya terima.

Polisi menulis di slip merah, sidang dilaksanakan 26 Agustus. Saya tidak bisa datang. Tugas kantor lebih penting pada hari itu. Besoknya baru saya sempatkan datang ke Pengadilan Negeri (PN) Depok.

Pertama menginjakkan kaki di PN, seorang lelaki menanyakan keperluan saya. Ketika tahu maksud saya, ia menawarkan membantu. Saya menolak. Saya bisa mengurus sendiri. Saya masuk pintu utama. Ada satu meja bertuliskan, “Tamu Harap Lapor”. Saya bertanya maksud kedatangan saya kepada petugas. Lantas sang petugas meminta surat tilang. “Sebentar saya periksa dulu ya,” kata petugas itu.

Tidak lama petugas itu datang. “Kena 50 ribu,” ujarnya.” Wow, sudah naik ya,” kataku. Karena sekitar 6 bulan lalu, denda melanggar lampu merah, 30 ribu. Saya ketilang di Otista, Cawang, Jakarta Timur. Akhirnya saya putuskan bertemu langsung petugas yang mengurusi bagian surat tilang.

Saya disuruh masuk ke ruangan. Ada tiga petugas (dua laki, satu perempuan) yang sedang berkerja. Yang laki sedang merapikan surat tilang. Saya tanya berapa denda pelanggaran saya. Satu orang menjawab, 40 ribu. “Bukannya 30 ribu pak,” kataku. Saya bilang, beberapa bulan lalu saya juga melanggar lampu merah, dendanya di PN Jak-Tim hanya 30 ribu.

Temannya tiba-tiba berujar, di Bekasi Anda bisa kena 70 ribu. “Oh jadi setiap pengadilan punya tarif yang beda ya,” kataku. Lelaki pertama menjelaskan, itu karena Anda tidak ikut sidang, kalau Anda datang kemarin mungkin dendanya 35 ribu atau 30 ribu. Padahal sewaktu di PN Jak Tim saya juga tidak ikut sidang.

Lalu mata saya menatap sebuah kertas berwarna biru (slip biru) di meja petugas itu. “Pak slip biru ini masih ada tidak sih?” kataku. Petugas itu menjawab, ada. “Kalau Anda dikasih slip biru, bayar dendanya di bank.” (polisi dan petugas pengadilan tidak klop). “Oh gitu ya pak,” kataku.

Akhirnya saya bayar denda 40 ribu. Mudah-mudahan itu bisa bermanfaat buat pembangunan Kota Depok yang ada beberapa titik ruas jalan masih rusak, seperti jalan masuk menuju Depok 2 Tengah dari jalan Juanda.

Saran saya, begitu kena tilang dan Anda mengaku salah, mintalah slip biru. Karena itu masih ada. Anda mungkin lebih ikhlas kalau uang Anda itu buat kepentingan dan pembangunan negara. Jadi bayarlah denda ke "wadah" yang benar. Di Bank, Kantor Polisi atau Pengadilan Negeri. (Ilustrasi mafatihul.files.wordpress.com)

Monday, August 25, 2008

Posisi Bayi di Perut Istri Tetap Sungsang


Bayi dalam kandungan istri saya tetap sungsang (posisi kepala di atas). Kepastian itu terungkap setelah istri memeriksa rutin kandungannya di Balai Kesehatan St Carolus, di Cijantung, Jakarta Timur, 23 Agustus 2008. "Kemarin sungsang ya," kata Mathius, Dokter Spesialis Kandungan yang memeriksa istri saya. "Coba kita cek lagi posisinya."

Seketika alat Ultra Sono Grafi (USG) ditempel ke perut istri, monitor 17 inch yang terpampang di sudut ruangan itu menampilkan warna hitam putih dengan sosok bayi yang terlihat samar-samar. "Wah masih belum mutar posisinya (sungsang)," kata dokter sambil menjelaskan kepada saya dan istri, kalau yang ditunjuk tanda panah putih di monitor kecil adalah kepala yang posisinya masih di atas.

Saya terdiam. Istri pun demikian.

Kalau diputar gimana dok? tanya istri saya yang pada hari itu memakai celana panjang dan baju sedikit ketat warna hitam. "Saya sarankan jangan, beresiko. Lebih baik alami, apalagi ini anak pertama," kata dokter. "Sudah 36 minggu ya, sulit ini," lanjutnya. Itu perhitungan dokter. Kalau menurut hitung-hitungan kami, usia kandungan istri 34 minggu. Berarti tinggal 4-6 minggu lagi istri melahirkan.

Posisi bayi yang belum normal tentu mengejutkan kami. Sudah satu bulan terakhir istri menjalankan saran dokter untuk "menungging" selama 15 menit, dua kali sehari. Tujuannya agar bayi memutar ke posisi normal. Tapi itu tidak terjadi. Kami sedih. Terlebih istri ingin sekali melahirkan dede secara normal. Ia tidak mau di operasi (caesar), karena itu mengganggu kondisinya pasca lahiran. Ia mau total mengurus dede setelah lahir di dunia. Memandikan, mengganti celana, menyusui, menggendongnya, dan mengelus kening dede.

"Maunya normal sayang," istri berucap manja kepada saya. "Iya, mudah-mudahan saja ada mukzizat dari dede. Siapa tahu saja pas di USG terakhir dede mutar," kataku. Istri langsung berujar, amin.

Istri, yang saya nikahi pada 8 Desember 2007 kurang suka operasi. Ia pernah menjalani operasi usus buntu, dan butuh berbulan-bulan untuk penyembuhan, serta mengeringnya bekas sayatan pisau. Takut mengalami hal sama, makanya ia berharap melahirkan secara normal. Supaya tidak ada hambatan mengurus dede, kata istri. "Juga tidak mau merepotkan neneknya dede, baik yang di Depok maupun di Cijantung."

Hitungan minggu, tinggal empat minggu lagi istri melahirkan. Prediksi tanggal 22 September, pas puasa, dede bisa merasakan dunia luar. Kami terus berdoa dan berusaha agar dede bisa lahir dengan normal. Saya lebih mengharapkan dede dan mamanya dalam keadaan sehat pas dan usai lahiran, karena mereka adalah nyawa saya.

Ya Allah yang maha kuasa, saya terus panjatkan doa buat anak dan istri saya agar senantiasa sehat. Saya juga berharap, pada harinya nanti, istri bisa melahirkan secara normal dan dikaruniai bayi sehat, lucu dan normal. Amin.

Tuesday, August 12, 2008

Latihan Plyometric: Jadi Sprinter Nyok!

Latihan plyometric berfungsi meningkatkan kemampuan daya ledak. Wahyudi Hidayat punya menu latihannya.

Apa yang Anda lakukan ketika melihat garis finis tinggal 500 meter lagi? Jawabannya pasti memacu sepeda Anda sekencang-kencangnya. Mengeluarkan kekuatan daya ledak (explosive power) semaksimal mungkin. Kalau kemampuan daya ledak Anda lemah, berarti siap-siap kalah dengan rival Anda. Namun jangan sedih. Jika memang daya ledak Anda lemah, Anda masih bisa meningkatkannya. Caranya, dengan metode latihan plyometric.

Inti latihan ini adalah merenggangkan otot, lalu membuatnya berkontraksi dengan cepat. Kekuatan, elasitas dan kelembaman otot dan jaringan yang melingkupinya dimanfaatkan untuk berlari cepat, memukul lebih keras, atau mengayuh sepeda sekencang-kencangnya, tergantung tujuan latihan yang ingin dicapai. Singkatnya mengeluarkan tenaga yang ekslosif.

Dulu, latihan ini populer di cabang olahraga atletik. Sebuah olahraga yang membutuhkan kemampuan daya ledak otot tungkai—seluruh kaki dari pangkal paha ke bawah. Dari ceceran data yang tersebar di internet, latihan ini dimulai tahun 1960. Pelatih atletik Rusia, Yuri Veroshanki, mengunakan metode latihan plyometric kepada atlet lompatnya dan mengalami kesuksesan luar biasa.

Metode latihan ini baru mulai mencuri perhatian saat perhelatan Olimpiade Munich 1972 di Jerman Barat. Atlet lari Rusia, Valery Borzov, menang di nomor lari 100 meter dengan catatan waktu fenomenal saat itu, 10 detik. Ia juga turut menyumbang emas pada nomor 200 meter. Itu semua berkat metode latihan plyometric yang diterapkan Yuri. Hingga Yuri pun, dalam artikel “Detraining-Why a Change Really is Better Then a Rest” karya Richard Godfrey, dipanggil “bapak” penelitian plyometric.

Menurut Donald A. Chu, seperti di kutip di buku “Jumping Into Plyometrics”, istilah plyometric berasal dari kombinasi bahasa latin, yaitu ‘plyo’ dan ‘metrics’, yang mengandung arti peningkatan yang dapat diukur. Masih menurut Chu, latihan plyometric adalah latihan yang memungkinkan otot mencapai kekuatan maksimal dalam waktu sesingkat mungkin—ini cocok buat balapan sepeda jarak dekat yang mengandalkan kemampuan sprint pembalap.

Bergulirnya waktu, metode latihan plyometric mulai diserap dan diterima cabang olahraga lain, seperti balap sepeda. Kepala Pelatih Balap Sepeda Trek Indonesia Wahyudi Hidayat menyisipi porsi latihan ini kepada atletnya. “Latihan ini mampu meningkatkan speed dan power,” kata Wahyudi

Bentuk latihan plyometric begitu beragam. Bisa menggunakan satu kaki dan dua kaki sebagai tumpuan. Namun Wahyudi Hidayat lebih condong mengajarkan dua kaki sebagai tumpuan. Di bawah ini salah satu contoh latihan plyometric yang dapat dipraktekan di luar pusat kebugaran (fitness center)

Squat Jump

Oiya, sebelum melangkah jauh ke teknik squat jump, Wahyudi menyarankan untuk melakukan stretching (perenggangan otot) terlebih dahulu. Ini hukumnya wajib. Kalau melanggar, kaki Anda bisa terkena kram dan kejang. “Sudah umum sebelum berolahraga harus didahului dengan perenggangan,” kata Wahyudi.



Perenggangan otot sudah Anda lakukan meski beberapa menit. Kemudian, Anda bisa memulai melakukan squat jump. Teknik ini mungkin sudah Anda ketahui lama. Apalagi jika semasa duduk di bangku sekolah menengah, Anda sering terlambat masuk sekolah. Sang guru pasti memerintahkan, “Kamu, squat jump 20 kali”. Nah, yang diperintah guru itu termasuk salah satu latihan plyometric.

Namun, kalau Anda belum tahu bagaimana melakukan squat jump, ikuti caranya berikut ini: satukan jari-jari kedua tangan Anda, lalu pegang kepala bagian belakang. Berdiri normal dan tegak, kemudian jongkok dan melompatlah dengan kedua tangan sambil tetap memegang kepala.

Squat jump ini bertujuan melatih seluruh bagian kaki: betis, lutut, paha dan pergelangan kaki. Berapa jumlah yang mesti Anda lakukan, Wahyudi menyarankan tidak boleh dari 40 kali. Namun ada dua perhitungan lain menurut Wahyudi, yaitu, untuk latihan kekuatan (strength) dan daya tahan (endurance). Buat latihan strength sebaiknya Anda melakukan squat jump sebanyak 6-12 kali. Sedangkan untuk endurance, 20-40 kali.

“Latihan ini harus progressive,” kata Wahyudi. Maksudnya, Anda mesti buat program latihan. Otot kaki tidak bisa disulap langsung kuat pada latihan pertama. Apalagi jika Anda menggeber squat jump sebanyak-banyaknya. “Cara itu bisa membuat otot rusak,” Wahyudi menambahkan.

Lakukan squat jump dengan berseri, seminggu 3 kali. Berarti sebulan Anda telah melakukan sebanyak 12 kali. Andai sehari Anda squat jump sebanyak 10 kali, berarti sebulan Anda dapat 120 kali. “Umumnya otot itu tidak bisa langsung terbentuk secara singkat. Sekali latihan, recovery, ngebentuk, latihan, recovery…, makanya dibuat berseri ” ujar Wahyudi.

Lompat Jauh

Latihan ini identik dengan satu nomor olahraga atletik, yakni lompat jauh. Permainan nomor ini adalah, atlet berlari kencang dan melompat ke alas pasir panjang. Juri mengukur berapa jauh lompatan atlet. Tapi, bukan itu yang bakal Anda kerjakan di menu latihan ini. Hanya caranya saja yang kurang lebih sama.

Posisi awal, Anda berdiri tegak. Kemudian, turunkan badan sampai Anda berada pada posisi jongkok, dan hup melompatlah ke depan. Lakukanlah lompatan itu dengan berpatokan pada waktu. Taruhlah, untuk pertama kali, satu menit. Jadi Anda melompat ke depan selama satu menit.

Variasi lainnya, Anda bisa mempraktekan dengan cara meluruskan kedua tangan ke depan, dan kaki tetap tegak. Lalu tekuk lutut, dan lompatlah ke depan. Ilustrasi mudahnya, lihatlah cara lompat “vampire china”, seperti yang kita tonton di layar televisi.

Sama seperti latihan squat jump, lompat jauh sebaiknya juga dibikin berseri. Buatlah program latihan selama 3 bulan. Anda tentukan sendiri berapa kali latihan lompat jauh.

Lompat Tinggi

Lompatlah setinggi-tingginya. Ini sebuah latihan yang mudah dilakukan. Anda bisa mengambil ancang-ancang dengan cara jongkok, lalu lompat ke atas. Praktekan ini secara berseri juga.

Lompat ke Sebuah Box

Cara latihan ini memerlukan sebuah alat. Anda bisa memanfaatkan peti atau kotak yang tingginya sekitar 30 sentimeter, atau sebuah anak tangga. Cara melakukannya adalah dengan melompat ke peti atau kotak, kemudian turun. Lompat lagi, turun. Ini sama dengan latihan lain yang dibuat berseri. Selamat berlatih.

Thursday, July 31, 2008

“Raja Tanjakan” Dari Sumedang


Nama Dadi Nurcahyadi niscaya tidak asing lagi di telinga penggemar olahraga balap sepeda gunung Indonesia. Ia atlet nasional yang turut menyumbang emas di Sea Games Filipina tahun 2005. Saya mengenal Dadi sejak awal tahun 2008 di Jalur Pipa Gas, Tengerang, saat berlangsungnya Trend Mountain Bike yang diadakan Polygon. Kemarin, 26 Juli 2008, saya kembali bertemu dirinya di daerah asalnya Sumedang, Jawa Barat. Ia bersedia menemani saya menyusuri jalur sepeda offroad di Sumedang. Namun tulisan ini tidak membahas perjalanan bersepeda saya di kota itu. Tulisan ini lebih mengarah ke sosok pribadi Dadi Nurcahyadi, sampai bisa "terjerumus" menjadi atlet.

*********

Kisah ini bermula tahun 1997, saat dimana bocah 14 tahun itu mempunyai satu unit sepeda Bicycle Motorcross (BMX). Sepeda itu dibeli dari temannya seharga 150 ribu, harga yang lumayan mahal buat murid kelas 2 SMP. Semenjak itu, lelaki kelahiran Sumedang, 13 September 1983, itu mulai aktif mengikuti lomba balapan sepeda, khususnya sepeda BMX. Bocah itu Dadi Nurcahyadi, atlet nasional balap sepeda gunung cross country.

Sedari kecil, tidak pernah terbesit dalam pikirannya jadi atlet balap sepeda. Kalau pun akhirnya menyelami dunia balap sepeda, itu karena pengaruh temannya, Atep Rupee. “Atep itu teman sebangku saya. Dia yang mengenalkan saya dengan dunia BMX,” kata Dadi ditemui di Sumedang, Jawa Barat.

Dari Atep, Dadi sering diajak berlatih BMX. Atep pula yang mengenalkannya kepada komunitas BMX di Sumedang. Tahun 1998, Dadi bergabung dengan tim Oaks (Organisasi Anak Kreatif Sumedang). Bersama Atep, Redianto dan Agus Suherlan (sekarang atlet downhill Jawa Barat), ia rutin mengikuti balapan BMX lokal.

Prestasi di balapan BMX banyak ia torehkan. Namun dari sekian prestasi, pengagum Julien Absalon ini, bangga bisa juara di event Kencana MTB/BMX Championship 2001. Di kejuaraan itu ia meraih juara pertama kategori junior. Lawan-lawannya antara lain Nurwarsito dan Chandra Purnamawan.

Membawa pulang piala dan hadiah uang dari event itu, ternyata tidak membuat orang tuanya senang. “Sewaktu masih sekolah, orang tua lebih suka saya menseriusi pendidikan,” kata pemakai sepeda Polygon Cozmic RX 3.0 ini.

Ketidaksukaan orang tuanya terhadap pilihan Dadi mengeluti olahraga balap sepeda perlahan luntur. Itu ketika sang anak pindah ke sepeda gunung tahun 2002. “Mungkin uang hadiah di balapan sepeda gunung lebih besar kali,” ujarnya sambil tersenyum.

Dadi pindah ke sepeda gunung atau bahasa sononya mountain bike (MTB) berkat ajakan Helmi Zen Oesman, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Umum Koni Sumedang. Saat itu Helmi sering melihat Dadi ikut lomba balapan BMX. Helmi pun menyarankan Dadi mencoba MTB dan meminjamkan sepeda MTB.

Sejak itu ia giat berlatih. Peluang terjun ke pentas yang lebih tinggi pun menimpanya. Ia dipanggil Koni Sumedang untuk memperkuat kontingen Sumedang di Pekan Olahraga Daerah (Porda) di Indramayu—sekarang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).

Tidak disangka, baru ikut Porda, Dadi langsung memperoleh emas. Hasil ini mengagumkan mengingat ia mesti melawan atlet senior macam Oki Respati dan Ferry Sonic. “Tidak menyangka saja bisa menang,” ujar ayah dua anak ini.

Selepas Porda, keinginan Dadi untuk melangkah jadi atlet nasional kian terbuka lebar. Koni Jawa Barat memanggilnya untuk ikut Pekan Olahraga Nasional 2004 di Palembang. Kali ini, lawan yang bakal ditemuinya adalah atlet nasional dan atlet kebanggan daerah. Sekali lagi, ia mampu berbuat yang terbaik, dan berhasil meraih perak. Ia hanya kalah dari Sugianto Gimo.

Perak PON yang ia raih menjadi tiket masuk pintu Pelatihan Nasional (Pelatnas). Ia dipanggil masuk pelatnas ketika ada kejuaraan Sea Games Filipina tahun 2005. Di Sea Games itu pelatih tidak memasang target medali kepada dirinya atau rekannya: Usman Ali dan Bandi Sugito. Namun, di luar dugaan, ia malah merebut medali emas.

“Bisa dapat emas saat itu kaget juga. Mungkin karena saya bertanding lepas dan tidak ada beban,” kata Dadi. “Semula memang pelatih hanya memerintahkan kita untuk bertanding saja. Apalagi pembalap Thailand dan Filipina tidak memperhitungkan saya saat itu,” Dadi menambahkan.

Lepas Sea Games itu, namanya mulai diperhitungkan pembalap lawan. Dari yang bukan apa-apa, jadi pembalap unggulan. Situasi itu jelas memberatkan dirinya. Kenyataan itu pun menimpanya di Sea Games Thailand 2007. Begitu bendera start dikibarkan, ia selalu dapat penjagaan ekstra dari pembalap lawan. Tidak ada peluang buat dia keluar dari penjagaan itu. Sepanjang trek, perhatian lawan terus tertuju kepadanya.

“Kemarin (Sea Games Thailand) lawan sudah mengenal saya. Jadinya susah buat saya untuk juara,” kata sahabat dekat Agus Suherlan ini.

Contoh lainnya adalah saat ikut kejuaraan di Kenyir, Malaysia. Dalam balapan berjudul Kenyir International Mountain Bike Challenge 2008, Dadi terus diburu Tawachai Masae. Setiap keluar dari rombongan dan menambah kecepatan sepedanya, Tawachai, peraih emas Sea Games 2007 asal Thailand itu, rajin menguntitnya. Ia pun gagal naik podium dan merelakan rekannya: Chandra Rafsanjani dan Bandi Sugito juara.

“Tawachai itu tahunya saya. Kemanapun saya pergi, ia pasti mengejar saya. Ini juga bagian dari strategi tim,” ujarnya.

Nama Dadi sudah “melegenda” di telinga penggemar sepeda gunung. Partisipasinya di pelbagai kejuaraan kerap mengundang pandangan penonton. Staminanya kuat dan tekniknya mumpuni. Sederet prestasi banyak lahir dari kayuhannya. Tahun 2008, ia mengantongi juara dua Mekarsari Mountain Bike National Challenge, juara pertama Polygon Jakarta Challenge, dan emas PON ke-17 di Kalimantan Timur.

Dadi bisa juara berkat latihan keras. Kalau tidak masuk pemusatan latihan, ia selalu berlatih sendiri. Jatahnya enam kali seminggu. Tiga hari latihan mengayuh di medan off road, sisanya on road. “Satu kali latihan nge-lap di off road,” ujar peringkat 239 dunia ini.

Latihan nge-lap dilakukan Dadi di trek Kereumbi, Sumedang. Ini trek temuannya. Panjangnya 7 kilometer. Porsinya tujuh kali memutari lap ini tanpa berhenti. Konturnya bervariasi: makadam, tanah, dan aspal yang agak kasar. Cycling pernah mencoba trek Kareumbi bersama Dadi, yang banyak memiliki tanjakan panjang. “Saya menyukai trek yang banyak tanjakan panjangnya,” katanya. “Kalau nemu trek seperti itu di lomba cross country, wah sudah, itu pasti milik saya,” Dadi menambahkan.

Kalau dianalogikan ke disiplin road, Dadi adalah raja tanjakan. Kini, penguasa tanjakan itu terus berburu gelar di pelbagai event cross country lokal maupun internasional. Selagi kakinya bisa mengayuh, ia akan tetap berkarir di dunia balap sepeda gunung.

Wednesday, July 30, 2008

Jelajah Bareng Peraih Emas PON 2008


Pada Sabtu, 26 Juli 2008, saya mengunjungi Sumedang, sebuah kota kecil di Jawa Barat. Bersama rekan: Hendrik, Anggoro Panji, Erik Ostmanovski, Doni Bima, Nirfan Rifki, Kodir Abdullah, Lulu dan Mang Udin, saya bersepeda menyusuri jalur off road nan indah menantang di kota yang terkenal dengan tahunya itu.

Jelajah bersepeda makin seru takala kami ditemani seorang atlet nasional sepeda gunung cross country, Dadi Nurcahyadi. Nama Dadi kian melejit seantero Indonesia akhir-akhir ini, berkat kemenangannya di PON ke-17 di Kalimantan Timur. Ia meraih emas.

Perjalanan bersepeda pertama dimulai Sabtu, 26 Juli. Lokasi treknya berada di kaki Gunung Tampomas yang memiliki ketinggian 1684 meter di atas permukaan laut. Cuaca pada pukul 2 siang, waktu start bersepeda kami rada adem. Kami memulainya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cimalaka.

Pertama menggowes kami sudah harus menemui medan tanjakan. Panjangnya sekitar 300 meter. Jalur makadam dan berpasir menjadi menu sarapan ban sepeda kami di sini. Pohon pinus di sisi kanan berdiri angkuh, seolah menertawakan kami, saat sepeda tidak bisa kami gowes lagi. Nuntun sepeda! bukan lah hal yang memalukan. Terkadang kaki memang sudah tidak bisa diajak kerjasama sampai menemui jalan datar.

Rekan saya, Kodir Abdullah, seorang newbie, bahkan mesti berjuang ekstra mendorong sepeda Muddy Fox. Nafasnya boros. "Rem depan gue nempel di ban terus nih," Kodir membuka pembicaraan dengan saya dan Anggoro yang menunggu di atas. Saya menyodorkan botol minuman kepadanya. Anggoro dengan logat jawanya menawarkan untuk bertukar sepeda.

"Enggak usah," kata Kodir yang penampilannya hari itu bak seorang pembalap handal dengan jersey merah putih dan sepatu Shimano ber-cleat. "Udah nih, biar gue pake sepeda lho, Anggoro membujuknya. Hus..huss..huss.. udara yang keluar dari mulutnya memecah kesunyian. "Bukan masalah sepeda juga sih. Tapi dengkul dah gak kuat," katanya. Spontan saya dan Anggoro tertawa cekikikan.

Sementara rekan lain sudah menunggu kami di atas.

Tidak berapa lami, rombongan kembali menyatu di sebuah tanjakan yang membelah pohon pinus. Nirfan Rifky sudah berada di atas. Tangannya memegang kamera dan siap menekan shutter ketika nemu momen bagus. Arah kameranya dibidik ke bawah. Satu-satu pesepeda mendorong sepeda. Rekan saya dari komunitas sepeda asal Sumedang, Titanic, juga ikut mendorong. Terkadang ada yang nekat menggenjot, tapi gagal. Hanya satu yang berhasil menggenjot sampai atas, dia adalah Dadi Nurcahyadi.

Weeeisss, sepeda melaju cepat. Setiap menemukan turunan, kami selalu melaju kencang. Tapi begitu ketemu tanjakan, kami menyerah. Kontur tanah berpasir, berbatu lepas, sukar buat kami taklukan. Kuatnya putaran pedal tidak ada artinya, karena ban sepeda slip melulu.

Iseng saya minta tips dari Dadi, yang saat itu menunggangi sepeda Polygon Cozmic RX 3.0, tentang cara mengayuh di medan berpasir dan berbatu lepas. Menurut Dadi, begitu menemui kontur tanah seperti itu, fokus perhatian berada di kaki. Tangan diusahakan jangan kaku, melainkan harus lemas dan agak menekuk. Posisi tangan seperti itu guna menjaga keseimbangan arah pergerakan sepeda saat dikayuh. Karena begitu Anda menggowes di medan berpasir, arah sepeda tidak selalu stabil lurus. Kadang-kadang sepeda melengos ke kiri dan ke kanan.

Kalau tanjakannya curam dan panjang, posisi badan agak membungkuk ke depan. Posisi gear belakang ditempatkan di tiga teratas dari yang teringan. Gear yang depan taruh di bagian tengah. Ini nantinya befungsi saat kaki Anda sudah tidak kuat mengayuh. "Kalau merasa dah tidak kuat, turunkan gear ke ringan. Tidak kuat lagi, pindahkan lagi posisi gearnya ke ringan. begitu seterusnya," Dadi pemegang medali emas Sea Games Filipina 2005 itu menyarankan.

Kalau tanjakan masih panjang, dan gear sudah ditempatkan ke yang paling ringan, Dadi mengatakan, itu dah tembok, alias dah mentok. Solusinya yaa nuntun.

Setidaknya, berkat tips singkat itu, saya jadi bisa mengayuh di medan berpasir dan berbatu lepas. Sayang, pedal saya tidak ber-cleat. Karena dengan teknologi itu kayuhan jadi lebih mudah.




Laju sepeda saya genjot perlahan. Kontur tanah disini kebanyakan makadam dengan lebar 1,5 meter. Kanan-kiri pohon pinus menjulang tinggi. Dekat-dekat menuju jalan raya Desa Jambu, Conggeang, Sukabumi, hamparan pohon salah berserakan. Satu dua buah salak kami cicipi. Manis. Anggoro menaru banyak salah di tas gembloknya.

Ketemu jalan raya, perjalanan dilanjutkan menuju objek wisata Cipanas Cileungsing. Jalan ini menyajikan "beribu" bonus. Dari warung yang ada di Desa Jambu, tempat kami beristirahat, hampir 7 kilometer kami melalui jalan menurun sampai ke objek pemandian air panas itu. Kami tiba pukul setengah 6 sore. Makan lantas mandi air panas. Segeeeerr.

Sunday, July 27, 2008

Pemenangnya Jabar

Jawa Barat keluar sebagai juara umum cabang balap sepeda PON ke-17 di Kalimantan Timur.

Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-17 di Kalimantan Timur itu selesai. Cabang olahraga balap sepeda menyelesaikan perlombaan terakhir pada 16 Juli lalu. Berarti, 10 hari cabang olahraga ini berlangsung. Semua disiplin: BMX, Trek, Road Race, dan Sepeda Gunung, sudah diketahui pemenangnya. Total 60 medali: 20 emas, 20 perak, dan 20 perunggu sudah tersebar ke pelbagai provinsi.

Hasil perolehan medali secara keseluruhan cabang ini, menempatkan Jawa Barat (Jabar) sebagai juara umum. Provinsi beribukota Bandung itu mengumpulkan 18 keping medali. Terdiri dari 7 emas, 3 perak dan 8 perunggu. Berada di tempat kedua, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta dengan 5 emas, 2 perak, dan 3 perunggu. Baru menyusul Jawa Timur dan DKI Jakarta, yang sama-sama mengoleksi 3 emas. Jatim lebih unggul dalam perolehan perak, yakni 8 perak. Sedangkan DKI hanya meraih 1 perak.

Trek: Tiga Rekor Nasional Pecah

Veledrome Komplek Stadion Perjiwa, Tenggarong, Kutai Kertanegara, pada 7 Juli lalu. Lokasi ini dipilih sebagai tempat berlangsungnya nomor permainan, Trek. Pada empat nomor yang dipertandingkan: Scratch Race, Point Race, Individual Pursuit (IP), Individual Time Trial (ITT), terjadi tiga pemecahan rekor, baik PON maupun nasional.

Uyun Muzizah memulai pemecahan rekor itu di hari pertama. Pembalap nasional yang membela Kaltim itu, mempertajam waktu Santia Tri Kusuma di nomor 500 meter ITT. Catatan waktu Uyun, 37,337 detik itu memecahkan rekor nasional yang sudah bertahan selama 5 tahun, yang dicetak Santia di Sydney, Australia, 38,426 detik. Uyun, 28 tahun, itu pun menjadi pembalap pertama yang dapat emas PON.

Selang beberapa jam, pemecahan rekor kembali terjadi. Kali ini di bagian putra. Pembuatnya, Sama’i, atlet nasional yang membela DI Yogyakarta. Pembalap berusia 30 tahun, spesialis sprinter ini memecahkan rekor PON nomor 1000 meter ITT. Rekor tahun 1996, 1 menit 8,580 detik atas nama Herryjanto Setiyawan, dibikin baru Sama’i jadi 1 menit 8,204 detik.

Satu hari kemudian, 8 Juli, pembalap Jatim, Angga Fredy Siswanto yang bertanding di nomor 4000 meter IP ikut memecahkan rekor PON. Angga mencetak waktu 4 menit 53, 077 detik. Ia memecahkan torehan waktu Suyitno yang dibuat tahun 2000 di PON Jatim, 4 menit 53,094 detik.

Namun, bintang di nomor permainan ini, tidak lain dan tidak bukan adalah Santia Tri Kusuma. Atlet nasional yang memperkuat DKI Jakarta pada PON ini selalu memperoleh medali di empat nomor yang dilombakan. Kepingan pertama, Santia merebut perak di ITT 500 meter. Hari keduanya, pembalap kelahiran Malang, 27 tahun ini, dapat emas di Scratch Race. Esoknya ia dapat perunggu IP 3000 meter dan emas Point Race.

“Saya senang bisa dapat semua medali di nomor Trek,” kata Santia Tri Kusuma kepada Cycling. “Dari awal, pengurus tidak membebani saya mesti dapat sekian medali. Tapi, dengan keberhasilan ini, yaa saya senang saja mas,” Santia menambahkan.

Road Race: Masih Diisi Muka Lama

Pembalap muke lama mendominasi nomor road race ini. Tentu kita kenal nama Tonton Susanto, Ferinanto, Nurhayati dan Matnur? Mereka lah yang juara di displin road race ini. Hanya ada satu pembalap kejutan yang meraih emas di disiplin road race. Dia, Yanti Fuchiyanti asal Jabar, yang meraihnya di nomor road race.

Perlombaan dimulai dengan nomor road ITT. Hari itu, 9 Juli, Jalan Wolter Monginsidi Tenggarong mendung. “Semoga lomba bisa berjalan lancar,” kata Daryadi Sadmoko, Komisi Wasit dan Perlombaan pada PON ini.

Nurhayati, pembalap kawakan asal DI Yogyakarta membuat kejuatan dengan menjuarai nomor road ITT. Di saat usianya beranjak 38 tahun, dan mesti menghadapi banyak pembalap muda, ia malah mencapai garis finis pertama. Pembalap kelahiran Jayapura ini mencatat waktu 29 menit, 28 detik, pada lomba yang menempuh jarak 20 kilometer ini.

Bagian putra tidak bisa menyelesaikan nomor ini. Tetesan air langit keburu turun. Tinggal sembilan balap yang belum start. “Perlombaan dilanjutkan Jum’at (11 Juli),” ujar Sadmoko.

Begitu pertandingan tunda dilangsungkan, Tonton Susanto, yang start di posisi terakhir mencatat waktu tercepat. Pembalap Le Tua Cycling Malaysia, yang kali ini membela Jabar, membukukan waktu 52 menit, 25,00 detik, pada jarak 40 kilometer. Ini PON terakhir Tonton. “Alhamdulillah target emas itu terpenuhi,” katanya, yang sudah ikut PON sejak tahun 1993.

Pada nomor selanjutnya, road criterium, Ferinanto menunjukan keperkasaannya. Mantan sprinter andalan Indonesia itu mempertahankan emas criterium-nya . Ini pembuktian bagi pembalap 30 tahun itu, kalau dirinya masih bisa bersaing, dan mampu mempertahan emas criterium.

“Saya dipanggil masuk Puslatda (Pemusatan Latihan Daerah) untuk mempertahan emas yang saya peroleh empat tahun lalu,” katanya, saat diwawancarai Cycling, awal Juni lalu. Ucapan itu pun terbukti.

Bagian putri, lagi, Nurhayati menambah pundi-pundi emas Yogyakarta. Berarti sudah 5 keping medali: 3 emas, 1 perak dan 1 perunggu, yang ia sumbangkan buat provinsi yang identik dengan sebutan Kota Pelajar itu. “Eksistensi saya di sini buat memotivasi yang muda. Masa kalah sama yang tua,” katanya, dikutip dari Kompas.com.

Nomor bergengsi road race dimulai 12 Juli. Lokasinya di Jalan Raya Tenggarong. Keluar sebagai juara adalah Matnur dari Yogyakarta dan Yanti Fuchiyanti asal Jabar.

BMX dan Sepeda Gunung: Milik Jabar

Tampaknya disiplin ini memang ladang medali buat Jabar. Dari 18 keping medali yang disediakan panitia, 10 medali “terbang” ke kontingen Jabar. Pendistribusiannya, 4 emas, 2 perak, dan 4 perunggu. Bintang Jabar pada PON ini adalah neng Risa Suseanty, 27 tahun.

Risa mulai mengumpulkan medali pada displin BMX Supercross. Lomba yang dilangsungkan 11 Juli, di Stadion Olahraga Tenggarong, Risa dapat emas. Empat hari kemudian, istri atlet sepeda gunung Singapura, Tan Hong Chun, ini menambah emas di nomor spesialisnya, sepeda gunung downhill.

Bertanding dalam kondisi tanak becek, di Bukit Pelangi-Komplek Kantor Pemerintahan Sanggata Kutai Timur, Risa kian menunjukan dominasinya. Ia mampu menuruni bukit sejauh 1,3 kilometer dengan waktu tercepat, 2 menit 1,97 detik. Dengan begitu, ia mencetak hattrick, karena selalu merebut emas downhill sejak tahun 2000. Medali terakhir Risa di raih di nomor cross country. Ia dapat perunggu.

Hari terakhir, 16 Juli, di Gunung Air Putih Samarinda, Jabar menggila. “Pasukan” sepeda gunung Jabar menguasai nomor cross country dengan merebut 5 medali dari 6 yang diperebutkan.

Kusmawati Yazid memulai “kegilaan” itu. Kategori putri yang mesti menempuh 3 lap—1 lap panjangnya 5,1 kilometer—, Engkus, sapaan akrabnya, melindas garis finis pertama. Ia membukukan waktu tercepat 1 jam, 4 menit, 10 detik. Tempat kedua direbut Jateng lewat gowesan Sri Suyamti.

Saat kondisi tanah makin becek, akibat guyuran hujan sebelum lomba, bagian putra memulai start. Maning, pembalap sepeda Jabar menunjukan kelasnya. Memutari lap sebanyak 6 kali, tiga pembalap Jabar: Dadi Nurcahyadi, Chandra Rafsanjani, dan Bandi Sugito, selalu tampil terdepan. Posisi itu dipertahankan hingga akhir lomba. Dan, tabungan medali balap sepeda Jabar bertambah tiga keping.

“Nomor sepeda gunung memenuhi target,” kata Engkos Sadrah, Ketua Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Jabar, dihubungi lewat telepon. Dengan demikian, 7 emas, 3 perak, dan 8 perunggu, menempatkan Jabar sebagai juara umum cabang balap sepeda.

“Medali yang terkumpul sampai hari terakhir melebihi target. Dua pembalap bikin kejutan,” ujar Engkos, yang sudah menjabat sebagai ketua umum ISSI Jabar sejak 2003. Yang dimaksud itu adalah Yanti Fuchiyanti yang juara di road race dan Agus Sofyan Ziad di scratch race.

Wednesday, July 23, 2008

Dede, Semoga Kelak Jadi Anak Sehat dan Soleh


Rasa bahagia seorang lelaki, bagi saya, memiliki istri yang soleha dan anak yang sehat dan berbakti. Poin pertama, Alhamdulilah sudah saya dapatkan. Perempuan muslim cantik itu saya nikahi 8 Desember 2007. Namanya Eka Dian Novita, mengandung arti anak pertama yang memberikan cahaya di bulan November. Poin terakhir bakal saya dapatkan kira-kira 22 atau 23 September, menurut perkiraan dokter kandungan RS Harapan Bunda, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Kepastian janin yang terdapat di kandungan istri saya terjadi akhir Januari 2008. Usai mengetahui, saya langsung berucap syukur, Allhamdulillah, ternyata Allah langsung mempercayakan kepada kami untuk merawat seorang anak.

Sekitar bulan keenam, saya membawa istri check up ke dokter kandungan. Kali ini saya tidak membawa ke RS Harapan Bunda, melainkan ke Balai Kesehatan St Carolus, Cijantung. Alasannya karena dekat rumah. Kepindahan itu sudah berlangsung selama lima bulan. Seperti biasa, saya dan istri nunggu giliran. Istri asyik menonton televisi yang jogrok di atas, saya malah sibuk membolak-balik mencari rubrik olahraga di Harian Kompas yang saya beli.

Selama memeriksa kandungan, memang saya kerap membeli koran harian. Biar tidak bosan nunggu-nya.

“Ibu Eka”, seorang suster berkacamata mengenakan seragam putih memanggil. “Ayo sayang,” saya mengajak istri masuk ke ruang dokter. Tidak langsung ketemu dokter, tapi menunggu lagi di kursi kayu, depan meja asisten sang dokter. Di dinding ruangan terpampang poster proses pertumbuhan bayi dari baru melahirkan hingga usia 3 tahun. Di sisi kanan meja sang asisten terdapat satu tempat tidur tertutup kerai putih. “Tunggu ya,” suster yang saya taksir berusia 40 tahunan itu menyilahkan saya dan istri menunggu.

Tidak lama, seorang ibu yang perutnya sudah membesar keluar ruangan dokter. Suster mempersilahkan kami masuk. “Ada keluhan,” tanya sang dokter. Pertanyaan pertama yang kerap saya dengar begitu duduk di depan meja dokter. “Tidak dok,” istri saya menjawab.

Istri saya langsung diajak suster rebahan di tempat tidur model persalinan, yang bagian ujung kakinya ada dua penyangga buat menaruh betis kaki. Tapi istri tidak memakai penyangga itu.

Dokter memegang alat deteksi dan mengoleskan ujung alat itu dengan sebuah gel. Tangan kirinya menyentuh mouse bulat, dan mata minusnya menatap monitor berukuran sekitar 8 inch—USG (Ultra Sono Grafi). Lalu alat yang sudah dilumeri gel itu sedikit menekan perut istri. “Oh, bayi di perut istri saya terlihat samar.”

Dokter menjelasakan, ini kepalanya, ini tulang belakangnya, ini tangan, kakinya, dan kayanya laki-laki. “Wow, saya bakal dikarunia jagoan,” gumamku. Tapi itu bukan yang utama. Bagi kami, apapun jenis kelaminya, yang terpenting istri bisa lahir normal, lancar dan kami dikarunia bayi sehat. Kami tidak mempersoalkan apa jenis kelaminya, karena ini anak pertama, cucu pertama bagi kedua orang tua kami.

Rasa bahagia kami susah diungkapkan. Terlebih saya. Bisa memiliki dua manusia yang baik, sayang, pengertian, dan ada disaat duka dan suka, sudah merupakan suatu nilai kebahagian yang tidak bisa ditukar dengan materi.

Segala bentuk perhatian pada bakal buah hati, kami curahkan semua bentuk kasih sayang. Elusan dari sang bunda selalu menemani dede waktu pagi, siang dan malam. Makan bergizi dan sehat menjadi asupan penting ibunya dan dede. Oiya. Dede adalah nama panggilan janin yang ada di rahim istri saya.

Kini, hari-hari kami dibalut kegembiraan. Saban siang, dede tidak bisa diam. Aktif. Ia merasa senang menemani mamanya berkerja. Malam hari, ia ingin dielus papanya. Sebelum tidur, saya membiasakan untuk menyapa dede dan mengelusnya. Respon yang dibalas dede adalah dengan menendang perut mamanya. “Senangnya saya.”

Tinggal 2 bulan lagi dede akan merasakan dunia luar. Kami selalu berdoa demi kebaikan dan kesehatannya. “Ya Allah, sebelumnya terima kasih atas segala rahmat dan rezeki yang Kau berikan kepada umatMu ini. Dan berilah kesehatan dan kekuatan kepada istri dan dede. Semoga kelak istri saya dapat melahirkan normal dan memiliki anak yang normal dan sehat. Amin.”

Monday, July 21, 2008

Trek Sederhana di Pekarangan Rumah


Trek tanpa nama ini terdiri dari lima media jumping-an. Sangat cocok buat pemula atau newbie.

Langit tidak sepanas siang tadi. Udara sudah terasa adem, saat saya mencoba trek permainan sepeda yang dibangun anak-anak komunitas sepeda gunung yang saban Sabtu-Minggu mangkal di hutan Universitas Indonesia (UI). Trek yang terletak di jalan M. Kahfi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu merupakan trek dirt jump dan memiliki satu fitur berm.

Tempat permainan sepeda dirt jump ini lain dari pada yang lain. Bila umumnya banyak penghobi sepeda gunung membangun trek dirt jump di lahan kosong di luar permukiman, maka trek ini sebaliknya. Trek yang mulai dikerjakan Mei 2008 ini malah dibangun di pekarangan rumah.

Salah satu pemilik rumah adalah Damhar Rahmad. Ia penghobi sepeda gunung yang ikhlas pekarangan berukuran sekitar 40 x 8 meter itu disulap jadi tempat lompat-lompatan. “Secara keseluruhan, trek ini belum sempurna,” kata Damhar, yang ikut mengerjakan pembangunan trek itu.

Bersama puluhan pesepeda gunung yang kerap kongkow di kediamannya itu, kerja bakti pembentukan trek dikerjakan Sabtu-Minggu. Alasan hanya mengerjakan pada kedua hari itu, sederhana. Kebanyakan penghobi adalah pekerja kantoran dan baru melampiaskan hobinya saat weekend. Kondisi trek yang sederhana itu, pembangunannya memakan waktu sekitar 6 hari—karena dikerjakannya Sabtu-Minggu, berarti sekitar 1 bulanan.

“Anak-anak (penghobi sepeda gunung UI) sering main ke rumah. Dari obrolan, terbesit untuk ngebangun trek sepeda di pekarangan,” ujar Damhar, yang sudah menyukai olahraga sepeda sejak tahun 1987-an. “Ini ide anak-anak. Dan saat ini baru jadi seperti itu,” Damhar menambahkan.

Maksud Dahmar itu, trek ini terlihat sangat sederhana. Di situ terdapat lima media jumping-an. Rata-rata tingginya 15 sampai 30 sentimeter. Satu jumping-an terbuat dari dua kayu tipis panjang selebar sekitar 10 sentimeter, yang diletakkan diantara dua ban mobil. Boleh dikatakan, media melompat seperti ini hanya ada di trek ini.

Menurut Novri Lifinus, satu penghobi sepeda gunung yang sudah mencoba trek ini, media melompat dari kayu itu berguna buat melatih keseimbangan di atas sepeda. Cara mainnya, sepeda di gowes pelan, dan biarkan sepeda berjalan di atas kayu itu hingga kayu itu berada pada posisi horizontal dan kemudian jatuh ke depan.

Kemudian, dimana titik start trek ini? Tidak ada titik start. Namun, saya yang main ke trek ini pada 17 Juli lalu, memulainya di samping ayunan. Permukaan tanahnya flat, sehingga untuk memperoleh speed yang cukup, saya mesti menggenjot kencang. Dari situ sepeda dibawa menuju berm. Jaraknya sekitar 20 meter.

Dari berm saya menuju jumping-an pendek yang permukaan tanah atasnya tertutup karung. Selesainya di jumping-an setinggi 30 sentimeter.

Kurang puas, saya pilih jalan yang cukup panjang. Bila sebelumnya permainan sepeda dirt jump saya berakhir di jumpingan setinggi 30 sentimeter itu, maka kali ini saya putar lagi. Usai melewati media melompat terakhir, sepeda saya genjot melewati dua gundukan tanah pendek, memutar lagi dan menutupnya di rintangan keseimbangan yang terbuat dari dua kayu tipis di atas dua roda ban mobil.

Tapi kalau Anda masih belum puas, Anda bisa nge-laps lagi setelah melabas rintangan kayu dan memutar kembali menuju berm. Cara permainan seperti saya itu berfungsi melatih kekuatan fisik, melatih teknik lompatan, pendaratan dan keseimbangan.

Kategori trek seperti ini cocok buat seorang pemula (newbie). Di trek ini, jangan harap Anda bisa terbang tinggi disemua media jumping-an yang.dihidangkan. Tapi tunggu beberapa bulan atau beberapa tahun mendatang, mungkin table top dan double jump tinggi bisa dijumpai di trek tanpa nama ini. “Trek ini masih butuh masukan dan sumbang saran,” kata Damhar, 43 tahun. Mungkin butuh tenaga dan dana ya heee.

Lokasi trek ini mudah ditemui. Patokannya Stasiun Lenteng Agung (LA), Jakarta Selatan. Kalau Anda dari arah Depok menuju Pasar Minggu, sebelum stasiun LA Anda belok kiri jalan yang tembus ke arah Jagakarsa. Bila Anda dari Jakarta menuju Depok, ambil putaran balik di Gardu, depan SMA 109 Jakarta dan ikuti petunjuk dari arah Depok tadi.

Jarak dari belokan itu ke trek sekitar 700 meter. Perhatikan arah kiri perjalanan Anda. Jika ketemu pagar besi biru yang panjangnya sekitar 4 meter, di situlah letak trek itu. Di rumah Damhar itu pula anak-anak komunitas sepeda gunung UI berkumpul.

“Trek memang belum 100 persen rampung. Anak-anak masih memikirkan pembangunan selanjutnya. Segala bentuk saran dan ide kita tampung,” kata Damhar. Damhar menambahkan, lahan di samping trek itu masih kosong. Lahan itu bisa difungsikan buat pembangunan trek lagi. Belum lagi yang di samping kiri trek, yang berbentuk legokan, bisa juga buat main sepeda. Penasaran, kunjungilah.

Tuesday, July 15, 2008

Belajar Teknik Front Wheel Hop

Tidak punya banyak waktu main sepeda di daerah pegunungan? Mulailah mencari taman bermain dekat rumah, dan tambah “tabungan” teknik bersepeda Anda. Kali ini cycling akan mengasih teknik front wheel hop menggunakan sepeda gunung. Bahasa populernya, teknik melompat-lompat dengan tumpuan roda depan, sementara roda belakang ke atas.

Teknik ini dikutip dari ehow.com tentang teknik sepeda gunung, dan dicampur penjelasan dari sebuah video how to front wheel hop.

Langkah 1

Kenakan pelindung tulang kering (shin guards), helm sepeda dan sarung tangan (gloves) sepeda. Kemudian turunkan seat post Anda ke posisi terendah.

Langkah 2

Putar crank secara perlahan hingga sepeda bergerak pelan, kemudian segera pindahkan posisi crank ke horizontal.

Langkah 3

Tekan rem depan Anda hingga mengunci 100 persen, dan tahan rem itu maksimal dengan dua jari. Ingat! Anda membutuhkan jari lainnya untuk menggenggam grip. Yang fungsinya nanti untuk menahan dan mengangkat handlebars. Jika Anda kuat menekan rem dengan satu jari, berarti kekuatan memegang grip bertambah.

Langkah 4

Saat rem terkunci, biarkan roda belakang mengangkat.

Langkah 5

Pindahkan pantat Anda ke belakang. Tepatnya di bagian belakang sepeda guna memperoleh tenaga untuk membantu mengangkat roda belakang hingga naik.

Langkah 6

Atur posisi kaki Anda dalam posisi yang benar: posisi pedal belakang vertikal dan ujung jari kaki belakang menghadap ke bawah. Posisi kaki menekuk. Untuk kaki dan posisi pedal bagian depan sedikit horizontal. Perihal kaki mana yang berada di depan tergantung Anda. Bila kaki kiri Anda lebih kuat, berarti kaki kiri yang di depan

Langkah 7

Saat posisi kaki Anda benar, mulailah melompat-lompat. Yang patut diperhatikan, saat akan melompat-lompat, ban belakang harus sudah berada di poin tertinggi, dan juga sebelum Anda mulai kehilangan keseimbangan.

Langkah 8

Buat lompatan kecil dan lembut. Lengan Anda harus renggang dan tidak kaku. Posisi kepala saat melakukan lompatan kecil menghadap ke bawah atau roda depan, dan lurus dengan ujung roda depan.

Langkah 9

Lompat ke depan jika Anda akan jatuh ke depan. Demikian juga lompat ke belakang jika akan jatuh ke bagian blakang. Ini akan membentu anda mencapai titik keseimbangan.

Langkah 10
Langkah terakhir, biarkan roda belakang turun untuk kembali ke posisi awal.

Keterangan: Foto langkah 4 dan 5

Thursday, July 3, 2008

Evans: Saya Bisa…


Pembalap Australia Cadel Evans difavoritkan juara Tour de France. Bersama timnya Silence Lotto, ia yakin dapat meraih juara.

Cadel Evans, 31 tahun, memperoleh bib atau nomor lomba balap sepeda Tour de France (Tour), nomor satu. Tradisi itu berlaku untuk pemegang gelar juara tahun lalu. Karena juara bertahan Alberto Contador tidak ikut serta, maka “tahta” itu turun ke runner up. Ia juga difavoritkan sebagai juara Tour tahun ini.

Evans asal Australia bernaung di tim Silence Lotto, Belgia. Tahun ini ia baru meraih satu gelar juara. Itu direbut di kejuaraan Copie e Bartali, di Italia. Di Pro Tour Series, tepatnya di Vuelta al Pais Vasco, ia hanya meraih runner up. Lagi, di kejuaraan yang diadakan di Spanyol itu, ia kalah dari Contador.

Sisa kejuaraan yang diikuti tahun ini, pembalap bertinggi 1,74 meter ini hanya bisa merenggut juara etape. Seperti; Vuelta a Andalucia dan Paris Nice. Tidak heran jika pembalap kelahiran Katherina, Northern Territory, ibukota Darwin, Australia, ini berambisi juara di Tour.

“Tim mempercayakan saya. Mereka berkerja untuk saya dan berkerja 110 persen. Dua tahun lalu saya tidak yakin mengenai diri saya, jika saya dapat menang Tour. Sekarang indikasi ke arah sana ada. Saya bisa…,” kata Evans.

Tour ke-95 ini yang keempat buat “penduduk” Swiss (tempat tinggalnya selama ikut lomba) ini. Semuanya menempatkan dirinya di jajaran top ten. Tahun 2005 ia menduduki rangking 8. Setahun kemudian menempati peringkat 4.

Evans punya mental juara. Banyak kejuaraan dimenanginya. Tahun lalu ia menjuarai Pro Tour Series, kejuaraan seri balap sepeda jalan raya tim divisi satu. Ia pernah juara Tour of Romandie tahun 2006 dan Tour of Austria 2001 dan 2004.

Stamina Evans bisa kuat melahap kejuaraan yang memakan waktu berminggu-minggu berkat masa lalunya. Fisiknya bak “kuda” karena terpaan kompetisi sepeda gunung atau mountain bike (MTB). Itu kisah pertama Evans berkarir di dunia balap sepeda. Ia mengawalinya di lintasan cross country tahun 1990.

Kiprahnya di jalur balap sepeda pro karena bantuan Damian Grundy. Pelatih sepeda gunungnya yakin Evans bakal menjadi atlet nomor satu dunia. Untuk itu ia menyertakan Evans kecil di Kejuaraan Dunia Sepeda Gunung Junior 1995 di Kirchzarten, Jerman. Tidak sia-sia. Di Negara Adolf Hitller itu, Evans memperoleh perunggu.

Tahun yang sama, Grundy kembali membawa Evans ke luar negeri. Kali ini jaraknya ribuan kilometer dari Australia. Tepatnya di negara Amerika Latin, Kolombia. Di negara yang 72 persennya adalah hutan ini, Evans mengikuti Kejuaraan Balap Sepeda Sepeda Road Junior. Lagi-lagi kayuhannya berbuah medali perunggu.

Koleksi medali Evans di cabang sepeda gunung kian bertambah tahun berikutnya. Ia melengkapi rak medalinya dengan perunggu kejuaraan dunia U23 tahun 1996, perak kejuaraan dunia tahun 1997 dan 1999. Ia juga pernah juara MTB World Cup Series Cross Country tahun 1998 dan1999.

Evans mulai pindah ke nomor jalan raya tahun 2001. Pertama ia bergabung dengan tim Saeco. Sekarang bersama Silence Lotto, ia menatap gelar Tour. Impiannya bakal ketahuan 27 Juli nanti, saat Tour usai.(T)

Thursday, June 19, 2008

Tour de Toba 2008: Har’s Management Rebut Dua Gelar


Sulaiman, 27 tahun, menjadi pembalap tercepat. Pembalap tim Har’s Management itu mengumpulkan total waktu 7 jam 21 menit 15 detik dalam kejuaraan Mountain Bike On the Road Tour de Toba, 13-16 Juni lalu. Kemenangan Sulaiman ditentukan di etape terakhir (etape keempat) dari Bukit Beta Tuk-Tuk menunju Nainggolan.

Dalam etape berjarak 81 kilometer itu, Sulaiman finis pertama dan saingannya Ahmad Yani terpental di posisi 10. Hasil itu memaksa Yani dari ISSI Riau merelakan singgasananya di puncak klasemen. Yani lambat 8 detik dari Sulaiman. Untuk tempat ketiga direbut Yadi Supratyo, juga dari ISSI Riau dengan catatan waktu 7 jam 22 menit 27 detik.

Pembalap Har’s Management juga memperoleh gelar dari kategori junior. Raihan itu dipersembahkan Azhari Yusuf, 17 tahun. Yusuf menyisihkan Mohammad Aim M Fauzi asal Malaysia dengan margin waktu 1 menit.

Dari kategori veteran menobatkan Edi Purnomo sebagai juara pertama. Pembalap ISSI Banyumas itu menyelesaikan seluruh etape sepanjang 203 kilometer dengan waktu 5 jam 30 menit 15 detik. Torehan waktunya lebih cepat 5 menit dari Danny Khaw asal Malaysia yang menduduki peringkat kedua.

Hasil Lengkap MTB On the Road Tour de Toba 2008:

Kategori Senior – 252 Km:
1. Sulaiman Har’s Management Medan 7:21:15
2. Ahmad Yani ISSI Riau 7:21:23
3. Yadi Supratyo ISSI Riau 7:22:27

Kategori Junior – 203 Km:
1. Azhari Yusuf Har;s Management Medan 5:49:41
2. Mohammad Aim M Malaysia 5:50:01
3. Munawar Sajali Pengprov Sumut 5:51:10

Kategori Veteran – 203 Km:
1. Edi Purnomo ISSI Banyumas 5:30:15
2. Danny Khaw Malaysia 5:35:52
3. Lee Ching Hoe Malaysia 5.40.05

Kategori Tim:
1. ISSI Riau 22:14:33
2. Malaysia 23:28:02
3. ISSI NAD 23:40:42



Monday, June 16, 2008

Latihan Drop Off: Berlatih Dari yang Rendah


Keberanian, teknik dan dimulai dari turunan drop off rendah, bakal membuat Anda mahir melahap rintangan drop off.

Bertemu turunan drop off kala bermain sepeda gunung, kerap bikin nyali ciut. Apakah kita mesti menuruninya atau menuntun sepeda? Demi keselamatan dan terampil melalui turunan drop off, berikut sedikit tips latihan dasarnya.

Persiapan
Turunan drop off memiliki banyak karakter. Entah itu area landing miring atau yang sedikit datar. Apakah turunan yang tinggi atau rendah. Ataukah turunan seperti anak tangga, yang terdiri dari banyak turunan, dengan diselingi sedikit permukaan datar. Atau mungkin juga drop off buatan yang ditahan oleh kumpulan tanah dalam karung, yang memiliki ketinggian sekitar satu meter, untuk permainan downhill?

Banyak kemungkinan yang bakal Anda temui saat mengendarai tunggangan di area pegunungan atau arena downhill. Sebelum memulai aksi menuruni drop off, alangkah baiknya Anda menumbuhkan rasa keberanian. Dalam hal ini mental. Anda tidak bakal tahu bisa atau tidak sebelum mencoba. Tentunya dengan mengenakan body protector.

Tempat Berlatih
Pertama yang mesti dimulai adalah mencari tempat nyaman buat berlatih. Telusuri tempat permainan downhill atau area permainan sepeda gunung. Pilihlah karakter turunan drop off rendah. Mungkin Anda bisa menyambangi trek sepeda Universitas Indonesia, Cikole, trek Gunung Pancar atau trek Gunung Pinang. Di arena itu tersedia drop off rendah.

Drop off rendah lebih aman ketimbang yang tinggi dengan area landing panjang. Buat seorang pemula, drop off tinggi dan panjang tidak disarankan untuk dicoba. “Untuk seorang pemula baiknya berlatih di drop off yang memiliki ketinggian 30 sentimeter,” kata Sugianto “Hoho” Setyawan, downhiller nasional Indonesia.

Teknik Latihan Dasar

Buat pemula, melatih mengangkat ban depan terlebih dahulu merupakan suatu keharusan. Ini baik untuk membuat sepeda berada di bawah kendali Anda dan menjaga keseimbangan sepeda saat mendarat. Pada landasan datar, Anda harus mendarat dengan roda belakang dahulu. Namun, posisi roda depan juga tidak terlalu tinggi dari roda belakang.

Sebaliknya, bila yang Anda temui landasannya miring dan menurun, roda depan mesti di dahului. “Saat menuruni landasan seperti ini, usahakan mendahului ban depan. Beban sebisa mungkin ada di belakang, untuk menghindari Anda terpelanting ke depan,” saran Hoho, yang pernah menjadi Juara Downhill Asia tahun 2005. Saat mau mencoba, seat post diturunkan sampat titik terendah dan tangan tidak boleh kaku.

Masih menurut Hoho, pegangan tangan di grip juga harus kuat. Ini buat menahan stang dan menahan goncangan sepeda saat jatuh ke tanah. Sementara posisi lengan crank saat mau melewati drop off, horizontal.

Teruslah rutin menuruni turunan drop off rendah tadi. Seringnya Anda berlatih, ditambah pemahaman teknik yang baik, lambat laun Anda akan mahir. Dan bakal timbul keberanian menuruni drop off tinggi dengan landasan panjang. Baiknya lagi, saat latihan, ajak teman Anda yang sudah mahir.

Ingat, setiap akan menuruni turunan drop off pandangan Anda fokus ke lintasan. Dan di dalam setiap latihan, kecelakaan bisa terjadi. Oleh karena itu disarankan memakai pelindung tubuh. “So don’t worry to get hurt”.

Thursday, June 5, 2008

Absalon Tetap Teratas


Menyebut siapa pemegang tahta tertinggi cross country, banyak pecinta sepeda menjawab Julien Absalon. Ambisinya mempertahankan emas olimpiade hingga 2012.

Membicarakan sosok Julien Absalon, akan lebih menarik bila melihat segi prestasi dan impiannya. Dari kedua tema itu, banyak sesuatu yang mengundang decak kagum dari lelaki kelahiran 16 Agustus 1980 itu. Segi prestasi, tidak perlu menilik jauh ke belakang. Paling hangat dan baru adalah keberhasilannya menjuarai tiga seri World Cup Cross Country 2008. Di tiga seri itu, Absalon begitu digdaya. Ia berharap, kedigdayaannya ini bakal menular di Olimpiade Beijing dan Kejuaraan Dunia di Italia nanti.

Cerita kedigdayaan penunggang sepeda Orbea Alma di tahun ini dimulai dari seri pertama di Houffalize, Belgia. Di kota seluas 166.58 kilometer persegi itu Absalon juara. Ia mempecundangi musuh bebuyutnya asal Spanyol, Jose Hermida Ramos dan pembalap Swiss, Christoph Sauser.

Kesuksesan episode pertama berlanjut ke episode-episode berikutnya. Ia mengantongi gelar juara di seri kedua di Offenburg, Jerman dan seri ketiga di Madrid, Spanyol. Tiga seri awal ia lahap habis. Ketangguhan di medan cross country seakan tiada tanding lagi. Padahal seri World Cup bukan prioritas utama yang harus diraih musim ini. “Saya memiliki rencana untuk mencapai puncak tahun ini di olimpiade dan kejuaraan dunia,” ujarnya.

Olimpiade Beijing di China dan World Championships di Italia target utamanya. Ia berkeinginan mengantongi medali emas di dua event besar itu. Sebagai favorit juara, ia mengaku bakal sulit memburu dua gelar itu. “Ramos (Hermida) lebih fokus di World Championships. Sedangkan pembalap Swiss akan menjadi pesaing berat di olimpiade,” ujarnya.

Mendapati emas di dua event besar dalam karir sepeda gunungnya bukanlah yang pertama. Absalon pernah merasakan dua gelar prestisius di cabang balap sepeda gunung cross country itu. Ia mengalungi medali emas Olimpiade Athena tahun 2004. Itu tambahan satu emas yang membawa Perancis menduduki peringkat 7 dunia saat itu. Di pentas dunia, dalam World Championship, ia adalah pemegang rekor terbanyak juara. Catatan buku induk balap sepeda dunia (UCI) menulis nama Absalon sebanyak empat kali. Ia juara dunia tahun 2004 di Perancis, 2005 di Italia, 2006 di Selandia Baru dan 2007 di Skotlandia.

Daftar juaranya makin lengkap kalau menilik kompetisi lain. Ia meraih poin terbanyak di World Cup Series 2003 dan berhak juara dengan menyisihkan Christoph Sauser asal Swiss. Tiga tahun kemudian, tepatnya 2006 ia mengulangi lagi. Sama dengan yang dulu ia juara setelah mengalahkan Sauser. Gelar ini ia pertahankan tahun berikutnya.

Kalau mau dijejali list juara di kompetisi rendah yang pernah diraih penyuka musik rap ini teramat banyak. Singkat saja, ia empat tahun berturut-turut juara nasional Perancis. Juara dua Eropa 2005, juara satu di Val di Sole Cup, MTB Alpago, GP Provinicia di Lucca tahun 2005. Semua pencapaiannya itu menobatkannya sebagai pembalap XC peringkat pertama dunia.

Dari rangking dunia yang dikeluarkan UCI baru-baru ini, Absalon tetap dengan kursi kerajaannya. Ia berada di posisi teratas “kerajaan” cross country. Mungkin singgasananya itu tidak bakal tergeser selama dua musim lomba. Bisa saja ia lengser, namun itu banyak syaratnya. Itu juga kalau Sauser yang bercokol di bawahnya selalu juara dan Absalon tidak merebut poin sama sekali. Namun hal itu kelihatannya bakal sukar terjadi. Selisih poin 803 antara Absalon dan Sauser di kategorikan jauh. Terlebih disaat Absalon sedang dalam masa keemasan.

Absalon memang dalam top condition tahun ini. Hampir setiap kejuaraan yang kerap diikuti berbuah juara. Enam kejuaraan yang disambangi termasuk World Cup Series berhasil dijuarai. Sisa tiga kejuaraan itu adalah: Gran Prix Massi Spanyol, Coupe de France VTT Subaru Parancis dan Roc Laissagais.

Kesusksesan di atas tanah liat turut membawa warga Saint Ame Perancis ini ditasbih banyak penghargaan bergengsi. Dua buah media terkemuka mengenai kereta angin, Velo News dan Cyclingnews, menobatkannya sebagai the best rider. Ia memperoleh Velo d’Or award tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007. Sedangkan Cyclingnews membapstis Absalon sebagai pembalap sepeda gunung terbaik tahun 2004, 2006 dan 2007.

“Saya gembira atas gelar itu (Velo d’Or Award 2004). Ini menandakan sepeda gunung sama populernya dengan sepeda road dan tentunya sepakbola,” ujarnya saat itu. “Saya akan terus berusaha mengangkat olahraga ini sepopuler road.”

Absalon bangga mengambil profesi atlet sepeda gunung. Ia tidak malu kalau sepeda gunung itu kalah prestisius ketimbang sepeda road. Bahkan beberapa wartawan sempet mengomentari penghargaan yang ia raih saat itu. Beberapa wartawan mengatakan kalau ia bisa mendapat lebih jika berada di jalur sepeda road.

“Ketika itu saya berujar tidak. Saya bilang saya adalah seorang mountain biker. Saya mau mengangkat olahraga ini. Suatu saat sepeda gunung pasti akan menjadi lebih terkenal,” ujarnya.

Olahraga sepeda gunung begitu ia cintai. Padahal olahraga off road ini bukanlah olahraga favorit pertamanya sewaktu kecil. Olahraga ini digeluti Absalon setelah “bosan” dengan judo dan ski. “Kedua olahraga itu telah membantu saya menyesuaikan diri dengan sepeda gunung,” ujarnya.

Kedua olahraga itu membantu Absalon memahami teknik dasar permainan sepeda gunung. Bagaimana ia tahu cara jatuh yang baik. Bagaimana caranya menjaga keseimbangan. Dan bagaimana caranya merubah arah. Setelah sponsornya tidak lagi mengizinkannya mengikuti ski, ia beralih ke sepeda gunung.

Absalon memulainya usia 14 tahun. Usia yang menurutnya telat untuk mengawali suatu olahraga baru. Kompetisi pertamanya menempatkan dirinya di peringkat tujuh. Berikutnya, di setiap kejuaraan, ia sering menduduki lima besar. “Kemenangan pertama saya terjadi tahun 1997. Saya menang di tingkat junior,” ujarnya. “Setelah itu hidup saya (sepeda gunung) berlangsung cepat.”

Kehidupan Absalon berlangsung cepat bak arus deras. Kilauan emas dirinya terjadi tahun 2003, kala ia mengagetkan dunia dengan menyabet gelar World Cup dalam usia 23 tahun. Setiap kejuaraan, usai tahun itu, kerap ia menangi. Absalon terlalu mendominasi kelas elite men cross country dunia. Baginya, emas olimpiade Beijing bukan puncak karirnya. Masih ada olimpiade London 2012 yang juga ingin ia gapai. “Saya akan berusia 32 tahun di sana (London),” ujarnya.

Tuesday, June 3, 2008

Penuh Super Tanjakan


Foto-Foto: Nirfan Rifki

Sedikit mengutip nama sebuah kejuaraan endurance, 12 or 24 hours Adrenalin, jelajah kali ini sedikit menyerupai. Perjalanan kami adalah 11 hours adrenaline yang didominasi super tanjakan.

Panas, terik matahari menyengat tubuh. Pepohonan di sisi kiri tidak bisa menghilangkan sengatan sang surya. Kepala hanya menunduk. Tidak berani saya menatap jauh ke depan. Yang saya perhatikan cuma jalan yang “ditanami” batu kali. Lebarnya sekitar 2 meter dengan sisi kiri kanannya permukaan tanah. Kontur tanah kering dan keras ini saya manfaatkan buat pijakan kaki. Sedangkan yang jalan berbatu saya gunakan untuk meletakan ban sepeda. Perlahan-lahan, langkah demi langkah, sekuat tenaga yang masih tersisa di dalam tubuh, saya keluarkan buat mendorong sepeda.

Setiap 10 meter saya berhenti. Mengambil air putih di bidon (botol minuman) yang tercantol di down tube sepeda. Dua tegukan air, melepas helm sepeda, lalu menyiram air di kepala, sedikit menolong rasa lelah dan sengatan matahari. Melongok ke belakang, Pepi Novri, rekan jelajah saya bersusah payah mendorong sepeda “panci”-nya. Sepeda jenis all mountain itu ia paksa dorong.

Sesekali saya mencuri pandang ke arah depan jalan, astaga, tanjakan ini masih panjang. Padahal saya dan rekan: Nirfan Rifki, Dhoni Bima, Hendrik, dan Pepi Novri, sudah menuntun sepeda sejauh 100 meter. Walaupun kami sering bersepeda, jelajah berkali-kali, medan tanjakan yang dilalui kali ini sangat sulit dan panjang. Saya yang memakai sepeda jenis cross country hard tail, dan Dhoni memakai sepeda dirt jump, sudah berusaha mengayuh sepeda di awal tanjakan. Namun, sekejap daya tahan kaki melemah. Berkali-kali ban ngesot, tidak bersahabat dengan permukaan berbatuan tajam.

Ben Kenda Kinetic berukuran 26 x 2.10 yang saya pakai, tidak bercengkerama dengan baik. Licin. Yaa, tentu saja, karena semalam Kampung Ciaul, Desa Mekarjaya, Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat, tersiram air hujan. Yang kontur tanahnya lembek kian becek, yang keras sudah mengering terkena panas matahari.

Selama menuntun sepeda tidak jarang keluar sumpah serapah dari teman. “Ah, gila,” gerutu Hendrik, ekstra lelah, akibat mendorong sepeda downhill yang ia pakai pada jelajah ini. “Parah,” ujar Pepi singkat. Seolah mulutnya terkunci, tidak dapat mengeluarkan kalimat panjang. Bahkan Nirfan, penasehat dan guru kami perihal teknis sepeda gunung, berujar saat istirahat, kalau hidungnya tidak bisa mengeluarkan nafas. Tersendat. Mau tidak mau mulutnya menganga, buat membuang nafas.

Ini medan super tanjakan. Ini pendakian. Mungkin sedikit sama dengan satu etape pegunungan Tour de France, L,Alpe d Huez, yang memiliki ketinggian sekitar 1000 meter di atas permukaan laut. Namun, tentunya yang kami lalui tidak setinggi itu. Tapi treknya yang nanjak mulu. Edan, sinting, gila. Dalam hati saya menggerutu, “Ini mendaki gunung apa main sepeda.”

Padahal medan tanjakan ini satu dari puluhan tanjakan yang kamu lalui dalam perjalanan jelajah dari Desa Cipeteuy, Kabandungan, Sukabumi, Jawa Barat menuju Desa Gunung Malang, Cikidang, Sukabumi, Jabar. Masih banyak tanjakan-tanjakan lain yang menguras tenaga, seperti halnya pendaki yang sedang naik gunung. Namun, yang kami jalani lebih berat. Daypack berisi perlengkapan individual: baju, celana, pompa, logistik, rain coat, plesit, dan trangia, sama dengan isi tas carrier pendaki. Bedanya, beban kami ditambah dengan mendorong sebuah sepeda gunung.

Dari puluhan medan tanjakan, mungkin satu atau tiga medan bisa saya lahap dengan mengayuh sepeda. Namun, banyak pula yang mengibarkan bendera putih, alias menyerah, dan kesal harus tuntun-tuntun bike (TTB). Seperti tanjakan di Kampung Sorogoh, Desa Mekarjaya, Kabandungan, Sukabumi. Dalam perjalanan menuju kampung berikutnya, yakni Kp.Cikurutuk, jalan berbatuan tajam, dihiasi basahan air hujan, saya tidak bisa mengayuh maksimal. Meskipun gear sepeda saya tempatkan ke posisi teringan, tetap saja ban sepeda tidak mencengkram baik. Akibatnya, roda ban cuma spin (memutar di tempat) saja.

Dari Cikurutuk menuju Kp.Lemah Duhur, tanjakan sinting kembali saya temui. “Busyet deh. Ini benar sinting tanjakannya,” ujar saya, menghadap Pepi yang berada di belakang. “Iya. Ini sih lebih parah dari jelajah sebelumnya,” komentar Pepi, yang mengenakan helm dirtlid, pelindung kepala buat permainan sepeda dirt jump.

Selama mendorong sepeda di kampung ini, menemui tikungan patah, saya dan teman berharap, setelah itu jalan datar atau turunan. Agar kami bisa mengistirahatkan kaki barang sejenak. Seperti biasa, setiap menemui medan ngehe, kepala saya tundukan. Kemudian sejenak mendengak, mengintip jalan ke depan, ada tikungan patah. Langkah demi langkah, tubuh berjalan lunglai, berharap menemui turunan, jalan datar, atau sebuah warung makan yang menyediakan minuman dingin nan segar. Namun, saat kepala saya mendengak, melongok setelah akan membelok, astagfirullah, tanjakan lagi.

Jarak yang saya lalui dari awal menanjak hingga menemui medan datar, sejauh 500 meter. Sepanjang itu kami TTB. Sinting. Beragam kata dumelan kerap keluar di mulut. Teguran ramah penduduk yang lalu lalang di jalan itu kami jawab dengan singkat. Sekali saya menanyakan kondisi jalan berikutnya. “masih nanjak mas,” kata penduduk yang lewat, seorang lelaki setengah baya berpakaian pegawai negeri sipil yang hendak ke kantor kelurahan untuk membagikan uang Bantuan Langsung Tunai (BLT).

“Merata juga pembagian bantuan uang dari pemerintah dampak kenaikan BBM akhir pekan lalu,” gumamku dalam hati. Karena sepanjang saya melewati rumah penduduk Kecamatan Kabandungan, rumah yang berdiri terlihat sederhana. Panjang rumah tidak lebih dari 7 meter. Bahkan guna mencari warung yang menyediakan minuman dingin sulit kami temui. Anak-anak kecil berseragam merah putih yang hendak menuju sekolah hanya mengenakan sendal jepit.

Hendrik, rekan saya yang jalan lebih dahulu dan beristirahat sejenak di sebuah sekolah dasar, heran. Satu persatu murid sekolah itu bersalaman dengannya. Sopan, sederhana dan sedikit norak kala melihat sepeda kami. “wuiih ada rem cakramnya,” celetuk seorang bocah lanang berkulit hitam, yang saya taksir berusia 6-7 tahun. Terkadang kerumunan bocah itu berteriak, “balap sepeda.”

Pandangan bocah itu terus tertuju ke kami. Meskipun kami sudah melintas jauh dari kerumunan bocah itu, pandangannya tetap tajam. Walaupun jauh, kami sengaja menoleh ke arah kerumunan bocah itu. Karena Nirfan, selaku fotografer, masih berada diantara bocah itu, guna mengabadikan kami dengan latar depan mereka. Kalau Nirfan ingin mengabadikan perjalanan ini, berarti itu kesempatan kami buat foto sesion dan istirahat. Tidak lama, namun lumayan buat mengusir rasa letih.

Tanjakan panjang terjadang bikin kami jengkel. Perjalanan menuju Kp Lemah Duhur itu menyiksa tangan dan kaki kami. Mending kalau kami berkali-kali ketemu jalan datar, hingga bisa beristirahat dan mengayuh sepeda. Perjalanan ke Lemah Duhur itu menyisakan kebencian mendalam dalam diri. Penuh dendam dan hanya bisa dihilangkan dengan sebuah minuman segar dingin. Namun, apa mau dikata. Warung makan yang kami singgahi tidak menyediakan obat penghilang dahaga itu.

Di meja dan digantungan hanya tersedia kerupuk, kacang, dan makanan kecil lain. Tidak ada minuman bersoda. Beruntung tukang es dawet pikul melintas di hadapan kami. “Ada es-nya bang?” tanya Dhonie. “Ada”, jawabnya si penjual itu. “Akhirnya nemu juga es,” kata Dhonie. Di Kecamatan Kabandungan itu kami memang kesulitan mencari minuman dingin. Bahkan penjual es cendol yang kami temui sebelumnya, tidak menggunakan es. “nama daganganya pun kami plesetkan, kalau itu adalah penjual cendol.”

Cukup lama kami beristirahat di sebuah warung yang dilayani dengan ramah oleh empunya. Lima mangkuk mie rebus beserta nasi melengkapi peristirahat makan siang. Kerumunan bocah kecil berjongkok di depan sepeda kami. Anak perempuan mengenakan jilbab dan anak laki-laki memakai peci menenteng sebuah buku kecil, mengamati sepeda kami. “habis ngaji ya dik? tanya Nirfan. Anak perempuan berusia 6 tahun yang disapa itu hanya senyum lantas lari tanpa menjawab.

Berbagai prilaku yang kami tangkap kala menyapa anak kecil setempat. Ada yang ramah, sopan, pemalu, agresif, dan pendiam. Terkadang ada bocah yang membantu kami mendorong sepeda seusai “menyantap” tanjakan berikutnya. Saya melihat Hendrik menuntun sepeda downhill Fastrax Monocoque AL 7005 dengan dibantu anak kecil. Saya pun kebagian bantuan tenaga anak kecil itu. Namun dengan sopan saya tegur, “tidak usah dik, nanti capai lho.”

Keceriaan anak-anak kecil itu mengikuti kami, mengamati sepeda kami, dan mengomentari sepeda kami, mengisi lembar tulisan jelajah ini. Orang dewasa mendekati kami, menyapa ramah kami dan menawari minuman. Keramahan yang mungkin tidak didapat di ibukota Indonesia. Benar-benar sebuah teguran hangat buat kami dari penduduk yang mayoritas adalah petani. Mereka menamam segala sayuran dan buah, yang kata salah seorang warga Kp.Siren, hasilnya itu dikirim ke Pasar Induk dan Pasar Minggu Jakarta.

Keletihan sudah terlihat disemua kru jelajah termasuk saya. Turunan panjang dan pendek sebisa mungkin kami nikmati. Bahkan trek menurun layaknya permainan sepeda downhill sering ditemui dalam perjalanan sejauh 25 kilometer ini. Yang menikmati tentu saja Hendrik dengan sepeda downhill-nya. Medan berkontur tanah dan batu tajam dilahapnya, seperti halnya ia menyusuri trek downhill Cikole, Bandung, Jabar dalam setiap event yang diikutinya. Demikian pula dengan Pepi yang kerap turun di balapan downhill. Sepeda full suspension pancinya pun sangat pas menuruni turunan curam, membelah pohon bambu dan melintasi perumahan penduduk.

Sebagai obat stres setelah mendaki “gunung” dengan membawa sepeda, turunan itu benar-benar obat mujarab. Kelelahan yang melanda kami spontan hilang, kala menikmati turunan sepanjang 600 meter di Kp.Cilengsir, Desa Ciangkrik. Namun, begitu cepatnya kami menuruni rute itu. Dan sangat disayangkan. Harusnya turunan panjang itu sepantasnya dijadikan pelabuhan terakhir perjalanan ini. Tapi bukan itu kenyataannya. Untuk mencapai Desa Gunung Malang, Cikidang, Sukabumi, kami mesti mendaki.

“Kita lewat sini?” tanya Nirfan kaget. “kata ibu itu, yang ada di belakang Pepi, arah menuju Gunung Malang itu naik bang,” jawan Dhonie. “Ah gila”. Ramai-ramai kami ngedumel. Bagaimana tidak? Yang ditunjuk ibu yang sedang bercocok tanam itu tanjakan. Sudut elevasinya sekitar 50 derajat, sangat miring dan tinggi. Panjangnya sekitar 30 meter. Menuntun sepeda di trek ini mengingatkan saya ketika mendaki Gunung Lawu sewaktu kuliah. Permukaan tanah kering, selebar 1 meter, di sisi kiri jurang dengan pemandangan Gunung Wayang dan Gunung Salak di belakangnya. Sementara Gunung Halimun sudah tertutup bukit, tidak bisa kami nikmati dikala sang surya mulai tenggelam.

Setengah puncak itu adalah pelabuhan terakhir kami. Tempat kami berlabuh, mengabadikan gambar, bercengkrama membahas perjalanan ini. Jarum jam menunjukan pukul 5 sore. Berarti 11 jam perjalanan kami dari Cipeteuy, Kabandungan menuju Gunung Malang, Cikidang. Perjalanan yang dimulai dari sang surya timbul sampai sang surya kembali tenggelam, memang didominasi trek menanjak. Turunan panjang juga tidak boleh dilupakan dalam jelajah ini. Sedikit mengutip sebuah kejuaraan dari sono yang kerap diikuti Tinker Juarez, pembalap Amerika Serikat spesialis endurance, ini adalah jelajah “11 hours from Cipeteuy to Gunung Malang”.