Showing posts with label Arena. Show all posts
Showing posts with label Arena. Show all posts

Wednesday, September 16, 2009

La Liga, Kompetisi Subur, Pemain Makmur


La Liga, kompetisi subur, pemain makmur. Berikut ada beberapa pebola yang memperoleh predikat sebagai pemain bergaji tinggi. Siapa saja?

Dari tanah Matador Spanyol, yang letaknya di Eropa Barat sana, hanya dua klub yang memendam pemain bergaji tinggi: Barcelona dan Real Madrid.

Los Galacticos, julukan Madrid, menempatkan enam pemainnya di daftar sepuluh teratas pebola “konglomerat”.

Posisi teratas diperoleh si anak Portugal Cristiano Ronaldo yang penghasilannya setahun di Madrid mencapai Rp 188 miliyar. Ricardo Izecson Dos Santos Leite alias Kaka kocek setahunnya di Madrid mencapai Rp 130 miliyar.

Lalu bocah 21 tahun asal Perancis, Karim Bernzema yang bisa menghasilkan duit dari kakinya sebesar Rp 123 miliyar per tahun. Berada di belakangnya Raul Gonzales dan Ruud Van Nistelrooy (Rp92,6 miliyar), serta Iker Casillas (Rp 87 miliyar).

Menyeberang keseteru abadinya Barcelona, ada tiga pemain Blaugrana, julukan Barcelona, yang punya penghasilan tertinggi per tahunnya.

Mereka adalah Lionel Messi asal Argentina yang mendapatkan gaji Rp 144 miliyar setahunnya. Pemain baru Barca Zlatan Ibrahimovic memperoleh bayaran Rp 137 miliyar setahunnya. Kemudian Thierry Henry yang mendapat bayaran Rp 108 miliyar. (Foto Ist)

Thursday, September 10, 2009

Timnas Inggris Tanpa Bintang 'Sirkus'


WAGs (Wives and Girlfriends), atau populer disebut sebagai istri dan pacar pebola Tim Nasional Inggris dilanda kekecewaan. Fabio Capello, pelatih Inggris, tidak mengizinkan mereka tinggal satu hotel dengan kekasihnya di Afrika Selatan, tempat berlangsungnya Piala Dunia 2010.

Para WAGs tetap bisa menemui kekasihnya di Afsel pada waktu-waktu tertentu. Capello, pelatih asal Italia, hanya memperbolehkan pemainnya menemui kekasihnya satu hari setelah pertandingan.

“Kami ke Afsel untuk bertanding, bukan liburan,” ujar Capello mantan Pelatih Real Madrid, AC Milan dan AS Roma.

Kata Capello, 63 tahun, jika para WAGs tidak mau mengambil jatah satu hari bertemu suaminya di Afsel, itu hak mereka.

“Jika mereka tidak mau datang hari itu, maka mereka harus tinggal di rumah,” katanya dikutip dari Daily Mail, 11 Sepetember.

Capello dikenal pemain Inggris sangat disiplin. Berbeda dengan pelatih asing sebelumnya, Sven Goran Eriksson asal Swedia yang memperbolehkan para WAGs tinggal dekat hotel pemainnya saat berlangsung Piala Dunia 2006 di Jerman.

Di Afsel nanti tidak akan ada parade ‘sirkus’, yang kata itu pernah dilontarkan bek Rio Ferdinand kala paparazi terus mengarahkan kameranya ke WAGs di Baden-Baden Jerman, lokasi penginapan mereka.

Saat itu para WAGs telah menjadi media pertunjukan paparazi, mereka belanja, keluar malam hari dan model pakaian yang dikenakan. Nanti di Afsel tidak ada parade sirkus dari Inggris lagi. (Foto WAGs/Daily Mail) Berita dari Astaga.com

Sunday, July 27, 2008

Pemenangnya Jabar

Jawa Barat keluar sebagai juara umum cabang balap sepeda PON ke-17 di Kalimantan Timur.

Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-17 di Kalimantan Timur itu selesai. Cabang olahraga balap sepeda menyelesaikan perlombaan terakhir pada 16 Juli lalu. Berarti, 10 hari cabang olahraga ini berlangsung. Semua disiplin: BMX, Trek, Road Race, dan Sepeda Gunung, sudah diketahui pemenangnya. Total 60 medali: 20 emas, 20 perak, dan 20 perunggu sudah tersebar ke pelbagai provinsi.

Hasil perolehan medali secara keseluruhan cabang ini, menempatkan Jawa Barat (Jabar) sebagai juara umum. Provinsi beribukota Bandung itu mengumpulkan 18 keping medali. Terdiri dari 7 emas, 3 perak dan 8 perunggu. Berada di tempat kedua, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta dengan 5 emas, 2 perak, dan 3 perunggu. Baru menyusul Jawa Timur dan DKI Jakarta, yang sama-sama mengoleksi 3 emas. Jatim lebih unggul dalam perolehan perak, yakni 8 perak. Sedangkan DKI hanya meraih 1 perak.

Trek: Tiga Rekor Nasional Pecah

Veledrome Komplek Stadion Perjiwa, Tenggarong, Kutai Kertanegara, pada 7 Juli lalu. Lokasi ini dipilih sebagai tempat berlangsungnya nomor permainan, Trek. Pada empat nomor yang dipertandingkan: Scratch Race, Point Race, Individual Pursuit (IP), Individual Time Trial (ITT), terjadi tiga pemecahan rekor, baik PON maupun nasional.

Uyun Muzizah memulai pemecahan rekor itu di hari pertama. Pembalap nasional yang membela Kaltim itu, mempertajam waktu Santia Tri Kusuma di nomor 500 meter ITT. Catatan waktu Uyun, 37,337 detik itu memecahkan rekor nasional yang sudah bertahan selama 5 tahun, yang dicetak Santia di Sydney, Australia, 38,426 detik. Uyun, 28 tahun, itu pun menjadi pembalap pertama yang dapat emas PON.

Selang beberapa jam, pemecahan rekor kembali terjadi. Kali ini di bagian putra. Pembuatnya, Sama’i, atlet nasional yang membela DI Yogyakarta. Pembalap berusia 30 tahun, spesialis sprinter ini memecahkan rekor PON nomor 1000 meter ITT. Rekor tahun 1996, 1 menit 8,580 detik atas nama Herryjanto Setiyawan, dibikin baru Sama’i jadi 1 menit 8,204 detik.

Satu hari kemudian, 8 Juli, pembalap Jatim, Angga Fredy Siswanto yang bertanding di nomor 4000 meter IP ikut memecahkan rekor PON. Angga mencetak waktu 4 menit 53, 077 detik. Ia memecahkan torehan waktu Suyitno yang dibuat tahun 2000 di PON Jatim, 4 menit 53,094 detik.

Namun, bintang di nomor permainan ini, tidak lain dan tidak bukan adalah Santia Tri Kusuma. Atlet nasional yang memperkuat DKI Jakarta pada PON ini selalu memperoleh medali di empat nomor yang dilombakan. Kepingan pertama, Santia merebut perak di ITT 500 meter. Hari keduanya, pembalap kelahiran Malang, 27 tahun ini, dapat emas di Scratch Race. Esoknya ia dapat perunggu IP 3000 meter dan emas Point Race.

“Saya senang bisa dapat semua medali di nomor Trek,” kata Santia Tri Kusuma kepada Cycling. “Dari awal, pengurus tidak membebani saya mesti dapat sekian medali. Tapi, dengan keberhasilan ini, yaa saya senang saja mas,” Santia menambahkan.

Road Race: Masih Diisi Muka Lama

Pembalap muke lama mendominasi nomor road race ini. Tentu kita kenal nama Tonton Susanto, Ferinanto, Nurhayati dan Matnur? Mereka lah yang juara di displin road race ini. Hanya ada satu pembalap kejutan yang meraih emas di disiplin road race. Dia, Yanti Fuchiyanti asal Jabar, yang meraihnya di nomor road race.

Perlombaan dimulai dengan nomor road ITT. Hari itu, 9 Juli, Jalan Wolter Monginsidi Tenggarong mendung. “Semoga lomba bisa berjalan lancar,” kata Daryadi Sadmoko, Komisi Wasit dan Perlombaan pada PON ini.

Nurhayati, pembalap kawakan asal DI Yogyakarta membuat kejuatan dengan menjuarai nomor road ITT. Di saat usianya beranjak 38 tahun, dan mesti menghadapi banyak pembalap muda, ia malah mencapai garis finis pertama. Pembalap kelahiran Jayapura ini mencatat waktu 29 menit, 28 detik, pada lomba yang menempuh jarak 20 kilometer ini.

Bagian putra tidak bisa menyelesaikan nomor ini. Tetesan air langit keburu turun. Tinggal sembilan balap yang belum start. “Perlombaan dilanjutkan Jum’at (11 Juli),” ujar Sadmoko.

Begitu pertandingan tunda dilangsungkan, Tonton Susanto, yang start di posisi terakhir mencatat waktu tercepat. Pembalap Le Tua Cycling Malaysia, yang kali ini membela Jabar, membukukan waktu 52 menit, 25,00 detik, pada jarak 40 kilometer. Ini PON terakhir Tonton. “Alhamdulillah target emas itu terpenuhi,” katanya, yang sudah ikut PON sejak tahun 1993.

Pada nomor selanjutnya, road criterium, Ferinanto menunjukan keperkasaannya. Mantan sprinter andalan Indonesia itu mempertahankan emas criterium-nya . Ini pembuktian bagi pembalap 30 tahun itu, kalau dirinya masih bisa bersaing, dan mampu mempertahan emas criterium.

“Saya dipanggil masuk Puslatda (Pemusatan Latihan Daerah) untuk mempertahan emas yang saya peroleh empat tahun lalu,” katanya, saat diwawancarai Cycling, awal Juni lalu. Ucapan itu pun terbukti.

Bagian putri, lagi, Nurhayati menambah pundi-pundi emas Yogyakarta. Berarti sudah 5 keping medali: 3 emas, 1 perak dan 1 perunggu, yang ia sumbangkan buat provinsi yang identik dengan sebutan Kota Pelajar itu. “Eksistensi saya di sini buat memotivasi yang muda. Masa kalah sama yang tua,” katanya, dikutip dari Kompas.com.

Nomor bergengsi road race dimulai 12 Juli. Lokasinya di Jalan Raya Tenggarong. Keluar sebagai juara adalah Matnur dari Yogyakarta dan Yanti Fuchiyanti asal Jabar.

BMX dan Sepeda Gunung: Milik Jabar

Tampaknya disiplin ini memang ladang medali buat Jabar. Dari 18 keping medali yang disediakan panitia, 10 medali “terbang” ke kontingen Jabar. Pendistribusiannya, 4 emas, 2 perak, dan 4 perunggu. Bintang Jabar pada PON ini adalah neng Risa Suseanty, 27 tahun.

Risa mulai mengumpulkan medali pada displin BMX Supercross. Lomba yang dilangsungkan 11 Juli, di Stadion Olahraga Tenggarong, Risa dapat emas. Empat hari kemudian, istri atlet sepeda gunung Singapura, Tan Hong Chun, ini menambah emas di nomor spesialisnya, sepeda gunung downhill.

Bertanding dalam kondisi tanak becek, di Bukit Pelangi-Komplek Kantor Pemerintahan Sanggata Kutai Timur, Risa kian menunjukan dominasinya. Ia mampu menuruni bukit sejauh 1,3 kilometer dengan waktu tercepat, 2 menit 1,97 detik. Dengan begitu, ia mencetak hattrick, karena selalu merebut emas downhill sejak tahun 2000. Medali terakhir Risa di raih di nomor cross country. Ia dapat perunggu.

Hari terakhir, 16 Juli, di Gunung Air Putih Samarinda, Jabar menggila. “Pasukan” sepeda gunung Jabar menguasai nomor cross country dengan merebut 5 medali dari 6 yang diperebutkan.

Kusmawati Yazid memulai “kegilaan” itu. Kategori putri yang mesti menempuh 3 lap—1 lap panjangnya 5,1 kilometer—, Engkus, sapaan akrabnya, melindas garis finis pertama. Ia membukukan waktu tercepat 1 jam, 4 menit, 10 detik. Tempat kedua direbut Jateng lewat gowesan Sri Suyamti.

Saat kondisi tanah makin becek, akibat guyuran hujan sebelum lomba, bagian putra memulai start. Maning, pembalap sepeda Jabar menunjukan kelasnya. Memutari lap sebanyak 6 kali, tiga pembalap Jabar: Dadi Nurcahyadi, Chandra Rafsanjani, dan Bandi Sugito, selalu tampil terdepan. Posisi itu dipertahankan hingga akhir lomba. Dan, tabungan medali balap sepeda Jabar bertambah tiga keping.

“Nomor sepeda gunung memenuhi target,” kata Engkos Sadrah, Ketua Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) Jabar, dihubungi lewat telepon. Dengan demikian, 7 emas, 3 perak, dan 8 perunggu, menempatkan Jabar sebagai juara umum cabang balap sepeda.

“Medali yang terkumpul sampai hari terakhir melebihi target. Dua pembalap bikin kejutan,” ujar Engkos, yang sudah menjabat sebagai ketua umum ISSI Jabar sejak 2003. Yang dimaksud itu adalah Yanti Fuchiyanti yang juara di road race dan Agus Sofyan Ziad di scratch race.

Thursday, June 19, 2008

Tour de Toba 2008: Har’s Management Rebut Dua Gelar


Sulaiman, 27 tahun, menjadi pembalap tercepat. Pembalap tim Har’s Management itu mengumpulkan total waktu 7 jam 21 menit 15 detik dalam kejuaraan Mountain Bike On the Road Tour de Toba, 13-16 Juni lalu. Kemenangan Sulaiman ditentukan di etape terakhir (etape keempat) dari Bukit Beta Tuk-Tuk menunju Nainggolan.

Dalam etape berjarak 81 kilometer itu, Sulaiman finis pertama dan saingannya Ahmad Yani terpental di posisi 10. Hasil itu memaksa Yani dari ISSI Riau merelakan singgasananya di puncak klasemen. Yani lambat 8 detik dari Sulaiman. Untuk tempat ketiga direbut Yadi Supratyo, juga dari ISSI Riau dengan catatan waktu 7 jam 22 menit 27 detik.

Pembalap Har’s Management juga memperoleh gelar dari kategori junior. Raihan itu dipersembahkan Azhari Yusuf, 17 tahun. Yusuf menyisihkan Mohammad Aim M Fauzi asal Malaysia dengan margin waktu 1 menit.

Dari kategori veteran menobatkan Edi Purnomo sebagai juara pertama. Pembalap ISSI Banyumas itu menyelesaikan seluruh etape sepanjang 203 kilometer dengan waktu 5 jam 30 menit 15 detik. Torehan waktunya lebih cepat 5 menit dari Danny Khaw asal Malaysia yang menduduki peringkat kedua.

Hasil Lengkap MTB On the Road Tour de Toba 2008:

Kategori Senior – 252 Km:
1. Sulaiman Har’s Management Medan 7:21:15
2. Ahmad Yani ISSI Riau 7:21:23
3. Yadi Supratyo ISSI Riau 7:22:27

Kategori Junior – 203 Km:
1. Azhari Yusuf Har;s Management Medan 5:49:41
2. Mohammad Aim M Malaysia 5:50:01
3. Munawar Sajali Pengprov Sumut 5:51:10

Kategori Veteran – 203 Km:
1. Edi Purnomo ISSI Banyumas 5:30:15
2. Danny Khaw Malaysia 5:35:52
3. Lee Ching Hoe Malaysia 5.40.05

Kategori Tim:
1. ISSI Riau 22:14:33
2. Malaysia 23:28:02
3. ISSI NAD 23:40:42



Wednesday, May 21, 2008

Visconti Pertahankan Jersey Merah Muda

Giro d'Italia 2008

Rasa sakit yang dialami Giovanni Visconti sepanjang etape 11 Giro d’Italia tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang mencapai finish. Dengan dorongan rekan setimnya: Paolo Bettini dan Andrea Tonti, pembalap Quick Step ini masih berhak atas jersey merah muda (maglia rosa). Pembalap berkebangsaan Italia ini memimpin lomba keseluruhan setelah menginjak finish di urutan 66, pada etape sejauh 199 kilometer, Rabu waktu setempat.

“Saya merasakan sakit di bagian perut dan muntah-muntah selama etape ini,” ujarnya. “Hasil ini berkat Bettini dan Tonti yang mempertahankan saya di jalur yang benar hingga bisa mencapai finish,” tambahnya. Total waktu Visconti setelah etape ini menjadi 49 jam 0 menit 17 detik. Visconti unggul 5 menit 50 detik dari peringkat kedua, Gabriele Bosisio.

Sementara, untuk juara etape ini diraih Alessandro Bertolini. Pembalap asal Italia ini menyelesaikan lomba dengan waktu tercepat 5 jam 44 menit 22 detik. Ini adalah kemenangan pertama pembalap berusia 36 tahun ini di Giro. “Saya sudah mencapai mimpi saya,” ujarnya dikutip bikeradar.com.

Tempat kedua dan ketiga direbut Pablo Lastras Garcia (Spanyol/ Caisse d’Epargne) dan Fortunato Baliani (Italia/CSF Group Navigare). Mereka lambat 5 detik dari Bertolini.

Thursday, May 15, 2008

Giro d'Italia ke-91 dari 10 Mei sampai 1 Juni 2008

Etape Keenam: Visconti Rebut Jersey Merah Muda
Lompatan besar dialami Giovanni Visconti pada etape keenam Giro d’Italia ke-91 yang berlangsung 15 Mei waktu setempat. Pembalap asal Italia ini merangkak naik ke peringkat pertama klasemen umum. Sebelumnya, Visconti adalah penghuni posisi 62. Namun, berkat masuk finis di urutan 8 di etape ini, serta terpentalnya para pembalap pemuncak klasemen umum termasuk Franco Pellizotti, ia pun berhak mengambil jersey merah muda dari Pillizotti.

Pembalap Quick Step itu total mengumpulkan waktu tercepat 27 jam 14 menit 4 detik. Sedangkan Pellizotti yang juga asal Italia bergeser ke peringkat 7, selisih 9 menit 8 detik dari Visconti. “Saya ingin mempertahankan jersey ini selama mungkin, untuk saya, pacar dan orang tua,” ujarnya.

Matteo Priamo Menang
Sementara, pada etape sepanjang 231.6 kilometer yang dimulai dari Potenza sampai Peschici, Matteo Priamo berhasil keluar sebagai pemenang. Pembalap tuan rumah ini lebih cepat 8 detik dari peringkat kedua Alan Perez Lezaun asal Spanyol. Priamo yang membela Tim CSF Group Navigare menyelesaikan lomba dengan waktu 5 jam 24 menit 49 detik.

“Sulit mengungkapkan apa yang sedang terjadi sekarang. Ini kemenangan pertama saya di Giro d’Italia. Dan saya tidak pernah berpikir untuk menang di satu etape,” ujarnya.

Etape Kelima: Brutt Menangi Etape Kelima
Pembalap Rusia Pavel Brutt memenangi etape kelima Giro d’Italia ke 91 yang menempuh jarak 203 kilometer, dari Belvedere Marittimo hingga Contursi Terme. Pembalap Tim Tinkoff Credit System ini menginjak finis pertama dengan catatan waktu 5 jam 4 menit 52 detik. “Tidak, tidak, saya tidak percaya ini,” ujar Brutt.

Dengan rata-rata kecepatan 39,951 kilometer perjam, Brutt lebih cepat 4 detik dari peringkat kedua Johannes Frohlinger (Jerman/Geroilsteiner). Tempat ketiga diduduki Luis Felipe Leverde Jimenez (Kolombia/CSF Group Navigare). Hasil etape ini tidak merubah pimpinan klasemen umum. Franco Pellizotti (Italia/Liquigas) tetap memimpin klasemen dengan total waktu 21 jam 46 menit 49 detik.

Etape keempat: Kemenangan Pertama Cavendish
Pembalap Tim High Road Mark Cavendish memenangi grand tour pertamanya. Pembalap Asal Inggris Raya itu juara di etape keempat Giro d’Italia ke 91, dari Pizzo Calabro sampai Catanzaro, berjarak 183 kilometer. Kemenangan Cavendish tidak lepas dari bantuan rekan setimnya yang membawa pembalap berusia 22 tahun ini berada di depan. Di final 200 meter kecepatan sepedanya mengalahkan laju Daniele Bennati (Italia/Liquigas) dan Robert Forster (Jerman/Gerolsteiner).

“Ini kemenangan terbesar dalam karir saya,” ujarnya usai lomba. “Apa yang dibuat tim saya hari ini sunguh indah. Mereka menaruh banyak kepercayaan kepada saya. Saat di medan tanjakan, mereka terlebih dahulu berada di depan. Menunggu saya, dan membawa saya kembali ke depan,” tambahnya.

Etepe keempat masih menempatkan Franco Pellizotti sebagai pemimpin umum klasemen keseluruhan. Pembalap Italia dari Tim Liquigas ini menorehkan total waktu tercepat 16 jam 41 menit 26 detik. Di bawahnya pembalap AS, Christian Vande Velde (Tim Slipstream) dengan selisih 1 detik.

Etape Ketiga: Bennati Mengukuhkan Kejayaan Liquigas
Kemenangan Daniele Bennati di etape ketiga yang menempuh jarak 221 kilometer dari Catania menuju Milazzo, 12 Mei, makin mengukuhkan posisi Tim Liquigas. Tim asal Italia ini menempatkan dua pembalapnya di peringkat teratas dua klasifikasi. Bennati menempati klasifikasi poin dengan 29 angka, dan Franco Pelizotti tetap bertahan di klasemen umum dengan total waktu tercepat 11 jam 52 menit 17 detik. Tim Liquigas juga menduduki singgasana sebagai tim tercepat hingga etape ini.

Bennati menyelesaikan lomba dengan waktu 5 jam 37 menit 1 detik. “Akhirnya saya memenangi satu etape di Giro d’Italia,” ujarnya. Pembalap berusia 27 tahun ini sudah memenangi etape di Tour de France dan Vuelta de Espana. Namun belum sekalipun menang di kejuaraan yang digelar di tanah kelahirannya. “Saya sangat bahagia dengan hasil ini, karena ini kemenangan saya pertama di lomba ini,” katanya.

Etape Kedua: Ricco Menang, Pellizotti Memimpin Lomba
Riccardo Ricco membuktikan diri sebagai yang tercepat di etape kedua Giro d’Italia. Pada lomba yang menempuh jarak 207 kilometer dari Cefalu menuju Agrigento, Ricco menyisihkan kompatriotnya. Pembalap Italia dari Tim Saunier Duval-Scoot ini mengungguli Danilio di Luca (LPR Brakes),
Davide Rebellin (Gerolsteiner), Franco Pellizotti (Liquigas), dan Paolo Savoldelli (LPR Brakes) dalam adu sprint.

“Pagi ini saya menginginkan memenangi etape, dan itu terjadi” ujar Ricco. “Benitez (rekan setim) membantu saya di kilometer akhir dan kemudian Peipoli. Saya merasa bantuan rekan setim itu sangat bagus.”

Hasil lomba etape kedua menempatkan Franco Pelizotti ke peringkat pertama klasemen umum. Pembalap Italia dari Tim Liquigas ini menggeser Christian Vande Velde ke posisi kedua. Catatan waktu Pellizotti unggul 1 detik dari pembalap Amerika Serikat itu.

Etape Pertama: Velde Memimpin Lomba
Tim Slipstream menang di etape pembuka Giro d’Italia ke 91. Pada etape Team Time Trial di Palermo berjarak 23.6 kilometer, lima pembalap Tim Slipstream membukukan waktu tercepat 26 menit 32 detik. Lebih cepat 6 detik dari Tim CSC. Hasil ini pun menempatkan satu pembalapnya, Christian Vande Velde, mengenakan jerse merah muda sebagai tanda pemimpin lomba. “Ini mengagumkan,” ujar Velde berusia 31 tahun. “Aku tidak yakin tentang kemenangan pertama bagi Amerika sejak 20 tahun terakhir.”

Thursday, May 8, 2008

Kloden Fokus di Giro d’Italia

Menjuarai Tour de Romandie 2008 di Swiss bukan impian Andreas Kloden. Pembalap Tim Astana ini hanya menganggap balapan kategori Pro Tour yang berlangsung 29 April sampai 4 Mei itu sebagai event pemanasan saja. “Menang di tour ini bukan sebuah impian. Tapi hasil ini memuaskan sebelum ikut lomba di Giro d’Italia,” ujar Kloden.

Sebagai salah satu kapten tim selain Alberto Contador dan Levi Leipheimer, Kloden lebih menatap Giro d’Italia. Pembalap berkebangsaan Jerman ini lebih fokus mengejar juara umum di event itu.

Ada indikasi Kloden akan menjadi kapten tim di Giro. “Mulai sekarang, dia adalah yang terkuat dari ketiga kapten yang kita miliki,” kata Juru Bicara Tim Astana, Philippe Maertens.

Kloden, 32 tahun, memulai musim balap ini dengan sulit. Dia harus berjuang melawan bermacam penyakit yang menyerangnya. Dia juga baru bergabung bersama tim saat memasuki pemusatan latihan di Albuquerque, New Mexico, Amerika Serikat. Saat balapan di Tour de Romandie, ia mengawali lomba dengan slow.

Ia baru bisa memimpin klasemen umum ketika memasuki etape ketiga (Time Trial) sepanjang 18,8 kilometer. Ia melindas garis finish pertama dengan catatan waktu 25 menit 32 detik. Pada etape terakhir ia masuk finish di posisi 18. Namun catatan waktunya secara keseluruhan tetap yang tercepat. Hingga ia dinobatkan sebagai juara dengan waktu 16 jam 43 menit 20 detik dalam lomba berjarak 659 kilometer itu.

Tuesday, May 6, 2008

Dominasi Atlet Jabar

Foto: Sumanjaya


Mekarsari Mountain Bike National Challenge 2008

Empat atlet Pelatihan Daerah Jawa Barat menempati dua peringkat teratas di masing-masing kelas elite.

Kucuran keringat membasahi tubuh Bandi Sugito. Kayuhan sepeda di permukaan tanah lembek membuat putaran crank-nya menjadi berat. Gumpalan tanah yang memenuhi bagian chain stay dan seat stay, serta menutupi rear derailleur, adalah biang permasalahannya. Namun, berkat permainan shifter yang lembut dan menggenjot dengan konstan, pemuda 22 tahun itu tetap bisa menunjukan ketangguhannya.

Kondisi trek cross country (XC) Taman Wisata Mekarsari, pagi itu memang banyak dihiasi permukaan tanah lembek. Kucuran air hujan yang membasahi trek sehari sebelumnya, memaksa pembalap mengeluarkan tenaga ekstra. Tidak heran jika dalam kejuaraan bertajuk “Mekarsari Mountain Bike National Challenge 2008”, 4 Mei 2008 lalu, banyak pembalap memilih keluar lintasan.

Sugianto Gimo, Chandra Rafsanjani, Agus Suherlan, Afrizal, dan Ade Wahyu adalah segelintir pembalap yang tidak dapat meneruskan lomba. Rafsanjani, atlet nasional Indonesia, terlihat menuntun sepeda saat memasuki lap ke-3. Di belakangnya, menguntit Agus. “Anting rear derailleur saya patah,” ujar Rafsanjani, peraih medali perunggu XC Junior di Asian MTB Championships 2007 ini.

“Jika dipaksakan hingga finish, RD sepeda saya juga bisa patah,” kata Agus. Menurut Agus, tanah yang menumpuk di sela-sela ban, membuat kayuhan sepeda jadi berat. Bahkan Gimo, yang dalam PON 2008 nanti membela ISSI Riau, sudah tidak terlihat di lintasan setelah bendera start dikibaskan. Otomatis greget persaingan di kelas men elite jadi berkurang.

Dari 36 peserta yang mengikuti kelas men elite, hanya 6 pembalap yang meramaikan peta persaingan juara. Bandi Sugito, Dadi Nurcahyadi, Usman Ali, Saikun, Nugroho Kristiyanti, dan Much.Nureocki selalu terlihat memburu gelar Piala Bergilir Menteri Pemuda dan Olahraga.

Pada lap pertama yang panjang lintasannya 6.2 kilometer, Usman Ali dari Kencana Bike Malang memimpin terlebih dahulu. Usman memimpin peleton besar saat memasuki single track. Namun, usai mengenjot sekitar 1 kilometer-an, peleton besar pecah menjadi kecil. Sampai disini, Usman masih terdepan. Mendekati 100 meter masuk finish, atlet XC nasional Indonesia ini hanya ditempel Bandi Sugito. Sedangkan Dadi Nurcahyadi mengejar di belakangnya dengan margin sekitar 100 meter.

Memasuki lap kedua, posisi terdepan berubah. Bandi berhasil menyalip Usman dan memimpin sendirian di depan. “Saya kira Usman ada masalah dengan sepedanya,” kata Bandi, yang seminggu sebelumnya juara XC di Kenyir Internasional MTB Challenge di Malaysia. Bahkan, Dadi yang di lap pertama ketinggalan jauh juga bisa mendahului Usman. Kedua atlet Jabar itu pun gantian memimpin lomba. Disusul Usman di tempat ketiga.

Namun, nasib sial kembali dialami Usman. Pemuda yang masuk kategori elite tahun 1999 ini tidak mampu menjaga posisi ketiga. Begitu lomba memasuki lap keempat, Usman yang baru juara XC di Bali, kembali disalip pembalap lain. Usman di dahului pembalap Bendy Cycling Team, Much Nureocki. Nasib buruk ternyata tidak mau menjauhi Usman. Pemuda berusia 26 tahun itu berturut-turut disalip Saikun dari ISSI Jambi dan Nugroho Kristiyanti dari Pengda ISSI Yogyakarta pada lap berikutnya.

“Usman agak kelelahan. Banyak waktu terbuang saat ia membersihkan gumpalan tanah di sekitar sepedanya,” ujar Sugeng Trihartono, Pelatih Kencana Bike Malang. “Begitu disalip pembalap lawan, ia terlihat malas mengejar lagi.”

Peta persaingan kontan terjadi di perebutan posisi ketiga saja. Sebab posisi pertama dan kedua yang ditempati atlet Jabar (Bandi dan Dadi) sudah tidak mungkin direbut. Perburuan tempat ketiga itu diperebutkan oleh tiga pembalap: Saikun, Nureocki dan Nugroho. Tempat ketiga pun akhirnya jatuh ke tangan Saikun. Atlet binaan Kesawadjati ini menyelesaikan lomba 8 putaran dengan waktu 2 jam 33 menit 8,71 detik.

“Lebih baik bawa satu macan saja ke event ini,” ujar Kesawadjati, Pelatih ISSI Jambi ini mengomentari keberhasilan Saikun di tengah kepungan atlet Jabar.

Atlet Jabar sendiri mencatat sukses dengan menempatkan dua pembalap di peringkat teratas. Bandi Sugito finish pertama dengan catatan waktu 2 jam 24 menit 20 detik. Dadi menyusul di belakangnya dengan selisih waktu 3 menit.

“Persaingan di kejuaraan ini berimbang. Rata-rata yang turun adalah pembalap PON 2008 nanti,” ujar Dadi. “Namun, karena kondisi trek yang berlumpur, banyak pembalap yang tidak dapat meneruskan lomba,” tambahnya.

Sedangkan Bandi menilai, keberhasilannya menjuarai event ini karena dirinya bermain aman. “Untuk turun di trek flat rasa nanjak ini membutuhkan kepintaran memainkan shifter,” kata Bandi yang masuk elite tahun 2004 ini.

Selain faktor stamina, keberhasilan Bandi dan Dadi keluar sebagai juara adalah pemilihan ukuran ban. “Dalam kondisi trek seperti ini, sebaiknya pilih ban berukuran kecil,” ujar Oki Respati, Pelatih MTB Jawa Barat. Dalam perlombaan, Bandi dan Dadi memakai ban berkuran 1,9 inch.

Kusmawati Yazid Juara
Dominasi atlet Jawa Barat (Jabar) berlanjut di kategori elite putri. Memutari trek sebanyak 5 lap, dua pembalap putri Jabar menempati peringkat teratas. Kusmawati Yazid memulai kejayaan Jabar dengan masuk finish pertama dengan membukukan waktu 1 jam 38 menit 4,39 detik. Diana Intan meneruskan kejayaan Jabar dengan finish di urutan kedua. Catatan waktu Intan dengan Kusmawati selisih 5 menit.

Sedangkan juara ketiga diraih pembalap Kencana Bike Malang, Tri Kurniasari. Tri yang juga merebut juara ketiga di kejuaraan GWK XC Challenge beberapa minggu lalu, menyelesaikan lomba dengan waktu 1 jam 52 menit 8,90 detik.

Jalannya perlombaan di kategori elite women berlangsung tanpa greget. Dalam list peserta, elite women hanya diikuti 4 peserta. Di awal hingga akhir lap, Kusmawati selalu berada di depan. “Akan lebih imbang jika atlet Jawa Tengah turun lomba disini,” kata Sugeng Trihartono, mengomentari absennya Sri Suyamti dan Putri Yushica dari Jateng.

Hasil Lengkap:

Junior – 6 Lap – 25 peserta

Mas Permadi Kencana Bike Malang 2:20:14,09

Iwan Setiawan Bendy CT 2:32:14,12

Novan Nur Fajar ABC 2:39:01,51

Men Elite – 8 Lap – 36 Peserta

Bandi Sugito Pelatda Jabar 2:24:20,00

Dadi Nurcahyadi Pelatda Jabar 2:27:28,98

Saikun ISSI Jambi 2:33:08,71

Women Elite – 5 Lap – 4 Peserta

Kusmawati Yazid Pelatda Jabar 1:38:04,39

Diana Intan Pelatda Jabar 1:43:24,96

Tri Kurniasari Kencana Bike Malang 1:52:08,90

Master A – 4 Lap – 53 Peserta

Agus Triyono Cilacap 1:09:17,12

Agus Jaelani Folker 1:11:11,68

Usman Marko Folker 1:12:55,42

Master B - 3lap – 24 peserta

Deden Dop Folker 0:53:19,89

Steven Gading Serpong CC 0:57:48,34

Pendi Teguh Setu/Parung 0:58:49,65

Master C – 2 lap – 30 Peserta

Arpan Biluk Gading Serpong CC 0:36:18,21

Tony Wijaya Kamurang Bike 0:36:29,81

Karnaedi Puspa CC 0:37:55,53

Monday, May 5, 2008

Hill Pertama, Peat Kedua


Downhiller Monster Iron Horse Team Sam Hill juara di ajang pemanasan kejuaraan dunia pada 4 Mei lalu. Sam Hill asal Australia ini juara di trek Val Di Sole, Italia dengan membukukan waktu tercepat 3 menit 19,42 detik. Waktu ini 22 detik lebih cepat dari pencapaian seeding run-nya. Sedangkan juara kedua dan ketiga di raih Steve Peat (Santa Cruz Syndicate) dan Fabien Barel (Subaru).

Margin waktu Peat dengan Hill mencolok. Peat menorehkan waktu 3 menit 24,60 detik, selisih 5 detik dengan juara dunia 2007 itu. Begitu juga Barel. Downhiller Perancis ini malah terpaut 7 detik dengan Hill. Sam Blenkinsop yang perkasa di seeding run juga tidak mampu mengalahkan waktu Hill. Downhiller Tim Yeti ini malah terperosok ke peringkat tujuh di final.

Event ini diikuti puluhan downhiller dunia: Floren Payet, Greg Minnaar, Nathan Rennie, Josh Bryceland, Pasqual Canals Flix, Matti Lehikoinen dan Chris Kovarik.

Tiga Seri Buat Absalon


UCI MTB WORLD CUP #3
Pembalap Perancis Julien Absalon mencatat hasil mengagumkan dengan memenangi ketiga seri kejuaraan UCI World Cup Cross Country Olympic (XCO) 2008. Setelah menjuarai dua seri sebelumnya, pembalap Tim Orbea ini melengkapinya di seri ketiga yang berlangsung di Madrid, Spanyol, 3-4 Mei lalu.

Berlangsung di sirkuit Casa de Campo sepanjang 7,8 kilometer, Absalon meraih juara dengan mencatatkan waktu tercepat 2 jam 12 menit 30 detik. Sebanyak 7 putaran (lap), peringkat satu dunia ini mampu mematahkan perjuangan pembalap tuan rumah Jose Hermida Ramos. Bahu membahu bersama rekan setimnya, Jean Christophe Peraud, Absalon mempecundangi Ramos dengan selisih waktu 12 detik.

“Saya berinisiatif menyerang (Ramos) saat memasuki turunan pertama di akhir 20 kilometer,” ujar Absalon dikutip cyclingnews.com. Sedangkan tempat ketiga diraih Peraud dengan margin 52 detik dari Absalon.

Dahle Flesja is Back
Pemegang enam gelar juara dunia XC Gunn Rita Dahle Flesja akhirnya meraih juara World Cup Series. Kepastian pembalap Norwegia ini merengkuh juara terjadi di beberapa meter menjelang finish. Drama adu sprint dengan Marie Helena Premont menjadi momen kembalinya pembalap berusia 35 tahun ini.

Flesja menyelesaikan lomba sebanyak 5 lap dengan waktu 1 jam 48 menit 14 detik. Torehan waktu itu selisih 1 detik dengan Premont asal Kanada. Di belakang Premont berturut-turut: Margarita Fullana( Tim Massi), Sabine Spitz (Tim Central Ghost Pro) dan Georgia Gould (Luna Women MTB Team).

Klasemen Sementara sampai seri ke-3

Elite Putra:

1. Julien Absalon (Perancis-Tim Orbea) 750 poin

2. Christoph Sauser (Swiss-Specialized Factori Racing) 445 poin

3. Christophe Jean Peraud (Perancis-Tim Orbea) 430 poin

Elite Putri:

1. Marie Helena Premont (Kanada-Rocky Mountain) 560 poin

2. Ren Chengyuan (Cina) 480 poin

3. Margarita Fullana (Spanyol-Tim Massi) 460 poin

Friday, May 2, 2008

Atlet Kencana Raih Banyak Juara

Foto: Sumanjaya Cycling Magz

Pada kejuaraan Urban DH dan XC yang baru pertama kali digelar di GWK, atlet Kencana Bike Malang menunjukan tajinya.

Harapan penggemar sepeda gunung downhill (DH) akan adanya kejuaraan Urban DH terwujud. Tepatnya 26 Mei, kejuaraan DH yang pertama kalinya digelar di area onroad (mix dengan offroad), terlaksana cukup meriah. Mengambil tempat di dalam Taman Kebudayaan Garuda Wisnu Kencana (GWK), di Bukit Ungasan Jimbaran Bali, kejuaraan ini dikuti 41 pembalap. Cukup meriah karena menghadirkan tiga atlet DH nasional: Popo Ariyo Sejati, Purnomo, dan Sugianto “Hoho” Setiyawan.

Lomba dimulai di hari pertama pukul 09.00 waktu setempat. Terbagi dalam empat kelas: Master A (usia 35 ke bawah), Master B (36-40), Master C (usia 41 ke atas) dan Open, para downhiller harus menempuh jarak 1,2 kilometer. Namun, untuk mendulang juara disini diperlukan fisik yang kuat. “Buat saya, trek ini melelahkan,” kata Mampuri dari Tim Rodalink Polygon Tuban mengenai banyaknya jalur datar.

Titik start terletak di ketinggian 120 meter di atas permukaan laut (dpl). Peserta dilepas di tempat start setinggi setengah meter, dekat patung Dewa Wisnu yang tingginya 22 meter. Rintangan pertama adalah turunan tangga, lalu wallride 1, menikung ke wallride 2 menuju turunan tangga, ketemu wallride 3 dan masuk jalur datar dengan empat cornering flat. Di sepanjang jalur ini, permukaannya adalah batu konblok. Setelah itu peserta menemui jalur tanah berjarak sekitar 400 meter.

“Jalur tanahnya sedikit licin,” ujar Popo mengomentari trek. Pihak penyelenggara, komunitas sepeda gunung Hillanders, membentuk berm dan tabletop dengan memanfaatkan tanah dan batu kapur yang berserakan disekitar komplek GWK. “Saat melewati berm, batunya merupakan batu lepas,” kata atlet Kencana Bike Team ISSI Malang ini.

Jalannya lomba berlangsung lancar, meskipun ada beberapa downhiller terjatuh. Kelas Open, yang merupakan eksibisi, mencatat nama Popo Ariyo Sejati sebagai juara. Popo berhasil menuruni trek dengan catatan waktu 1 menit 1,115 detik. Waktu ini lebih cepat 2 detik dari hasil seeding run yang ia raih. Di kelas ini, yang menyertakan 9 pembalap, Popo menyisihkan rekan setimnya, Purnomo dan Hoho.

Hasil kelas Master A tidak banyak berubah. Posisi pertama dan kedua seeding run sama dengan hasil final. Pembalap Elgato Yogyakarta, A. Panca Melipat meraih juara pertama dengan waktu 1 menit 8,554 detik, unggul 1 detik dari Benny Setyawan (Kencana Bike Team ISSI Malang). Kemudian disusul Iswendy Sohe (Charmdevo Linggau Sumsel) dengan torehan waktu 1 menit 11,616 detik, 2 detik lebih cepat dari hasil seeding run-nya.

Perubahan hasil tidak terjadi di kelas Master B. Zainul Siswanto mampu mempertahankan posisi pertamanya. Pembalap Kencana Bike Team ISSI Malang ini hanya mempertajam waktu seeding run 1 menit 12,410 detik menjadi 1 menit 8,104 detik. Tempat kedua dan ketiga direbut Ramon (Polygon-MTB Freeride Indonesia) dan Iwan (MTB Bali Freeride-Oakley).

Perubahan hasil yang signifikan terjadi di kelas Master C. Chandra Ariavijaya (Charmdevo-Oakley-Delmatic Bandung) yang superior di seeding run dengan waktu tempuh 1 menit 14,126 detik harus terpental dari tiga besar di final. Pentolan Charmdevo itu pun harus puas di peringkat 5. Juara pertama di kelas ini diraih Andreas Kuhn (Banshee Team Bali). Kemudian, disusul Imam Senewe (Elgato Yogyakarta) di tempat kedua dan Erwin C (Polda Bali) di posisi ketiga.

Usman Ali Juara XC

Trek cross country (XC) GWK Peak A Boo sepanjang 2,4 kilometer menjadi saksi bisu keperkasaan Usman Ali. Hampir disetiap putaran (lap), pembalap Kencana Bike Team ISSI Malang ini selalu memimpin peleton terdepan. Memutari trek sebanyak delapan lap (Men Elite), Usman tidak pernah tersalip oleh pembalap di belakangnya, dan menginjak finish pertama dengan waktu 57 menit 54 detik.

Persaingan seru di men elite justru terjadi di posisi kedua dan ketiga antara Andi Prasetyo dan Sugianto Gimo. Kedua pembalap ini saling berburu gelar runner up di sepanjang lap. Andi dari Kencana Bike Team ISSI Malang lebih dahulu merebut lap pertama dengan margin 2 detik dari Gimo.

Lap kedua gantian Gimo yang berada di depan dengan margin 1 detik dari Andi. Keunggulan Gimo yang membela ISSI Riau ini dipertahankan di lap ketiga. Namun di lap keempat sampai ketujuh, Gimo membiarkan Andi mendahuluinya. Bahkan gap keduanya semakin jauh. Rata-rata waktu, Andi unggul 15 detik dari Gimo.

Saat di lap terakhir, Gimo menambah kecepatan kayuhannya. Tepatnya di puncak terakhir (Peak A Boo), mantan atlet nasional berusia 36 tahun ini menyalip Andi. Tidak tinggal diam, Andi pun terus menguntit Gimo. Menjelang 20 meter mendekati garis finish, Gimo tetap terdepan. Sekitar 5 meter, Gimo melepas pegangan handlebars-nya. Namun, di belakangnya Andi terus melakukan sprint, berusaha menyalip Gimo, tapi gagal.

Gimo menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 1 menit 0,52 detik. Selisih 1 detik dari Andi yang merebut juara ketiga. “Saya ini bertarung di sini habis-habisan. Usia saya 36 tahun, dan harus diadu dengan pembalap muda, “ ujar Gimo. “Umur segini, saya itu cocoknya turun di master,” katanya. Namun, tambahnya, tidak mengangka saja saya masih bisa juara.

Andi yang meraih juara tiga mengaku kecolongan gelar dari Gimo. “Saya tidak mendengar bunyi kentungan dari panitia di lap terakhir,” ujarnya. Sehingga saya membiarkan begitu saja Gimo menyalip saya di puncak terakhir. “Ketika panitia mengibarkan bendera, baru saya tahu ini lap terakhir,” tambahnya.

Lomba XC yang baru pertama kali di gelar di trek ini, diikuti 108 peserta dari beberapa daerah. Seperti: Kalimantan Selatan, Malang, Jateng, Yogyakarta, Riau, Bali dan Tulungagung. Lomba ini terbagi dalam lima kelas : Elite Men, Women Elite, Junior Atlet, Master, dan Executive. “Kejuaraan ini rencananya akan kami tingkatkan menjadi Kejurnas tahun depannya,” kata Ketua Penyelenggara Jonie R. Noor.

Hasil Lengkap

Urban Downhill:

Master A
1. A. Panca Melipat (Elgato Yogyakarta) 1’08”,554
2. Benny Setyawan (Kencana Bike Malang) 1’09”012
3. Iswendy Sohe (Charmdevo Linggau Sumsel) 1’11”616

Master B
1. Zainul Siswanto (Kencana Bike Malang) 1’08”104
2. Ramon (Polygon-MTB Freeride Indonesia 1’12”169
3. Iwan (MTB Bali Freeride-Oakley) 1’12”297

Master C
1. Andreas Kuhn (Banshee Team Bali) 1’15”803
2. Imam Senewe (Elgato Yogyakarta) 1’19”047
3. Erwin.C (Polda Bali) 1’23”997

Open
1. Popo Ariyo Sejati (Kencana Bike Malang) 1’01”115

Cross Country Challenge:
Kelas Executive - 3 Lap:
1. Ketut Sukarta (Lelasan Berseri Bali) 27’30”
2. Gatot Muhammad (Padma Bike Bali) 27’31”
3. Greg Parker (Privater Bali) 27’32”

Kelas Master - 4 Lap:
1. I Made Karang (dede) (MACA Lombok) 32’28”
2. Dwi Ratsongko (Gilass Surabaya) 32’34”
3. I Dewa Made Astawa (MACA Lombok) 37’22”

Junior Atlit – 6 laps:
1. I Dewa Nyoman Triadi (MACA Lombok) 51’24”
2. Mas Permadi (ISSI Malang) 52’35”
3. Angga Mujianto 1.00’13”

Elite Men – 8 laps:
1. Usman Ali (Kencana Malang) 57’45”
2. Sugianto Gimo (ISSI Riau) 1.00’52”
3. Andi Prasetyo (Kencana Malang) 1.00’53”

Elite Women - 5 Lap:
1. Sri Suyamti (ISSI Jateng) 46’08”
2. Putri Yushica (ISSI Jateng) 47’24”
3. Tri Kurniasari (Kencana Malang) 51’26”

Lomba Urban DH Itu Ada

Foto: From Sepedaku.com/Fadetoblack

Setelah sukses dengan pergelaran Urban DH pertama di Indonesia, event ini rencananya akan rutin diadakan tiap tahunnya.

Saat sebuah iklan kejuaraan sepeda gunung GWK XC Challenge 2008 muncul di banner situs sepeda terkemuka di Indonesia, Sepedaku.com, web ini kontan kebanjiran pertanyaan pengunjung. Entah itu pertanyaan seputar trek, hadiah, kelas yang dilombakan, atau foto tempat yang bakal dipakai lomba. Namun, menurut saya, daya tarik lain yang menyebabkan pegakses situs itu mau singgah ke halaman iklan itu adalah nomor lain yang dilombakan.Yaitu, Urban Downhill (DH).

Pihak panitia, dalam hal ini komunitas sepeda gunung Bali, Hillanders, mencoba menjadi pencetus lomba Urban Downhill (DH) pertama di Indonesia. Sebagai sebuah lomba yang baru ada, tentunya ini menarik minat penyuka sepeda gunung jenis DH. Tidak heran bila iklan dan pengumuman lomba ini di akses 5133 kali dengan 188 jawaban atau pertanyaan. Jika dilihat dari empat halaman pertama item news, iklan ini paling banyak diakses. “Ide pertama kali bikin urban downhill berkat masukan rekan-rekan MTB Community Bali,” ujar Jonie R.Noor, Ketua Penyelenggara.

Urban DH dimainkan di dalam area Taman Kebudayaan Garuda Wisnu Kencana (GWK), di Bukit Jimbaran, Bali. Peserta diharuskan menuruni tangga dari depan Patung Wisnu menuju patung tangan Wisnu. --Konon sambungan tangan ini akan digabung dengan badan, kepala Wisnu serta burung Garuda--Total jarak dari start hingga finish menempuh 1,2 kilometer.

Rintangan yang tersaji dalam trek meliputi: turunan melewati tiga tangga, tiga tikungan menggunakan wallride, jalur datar yang dilengkapi jump box untuk melompat, berm dari batu kapur, cornering flat, table top dan drop off. Permukaan trek adalah paduan jalan aspal (batu konblok) dan tanah bercampur batu kapur. Komposisinya 70 persen batu konblok, 30 persennya tanah.

Dalam lomba yang berlangsung 26 April 2008, waktu tercepat permainan Urban DH dipegang Popo Ariyo Sejati. Atlet nasional ini membukukan waktu 1 menit 1,115 detik. Tempat kedua diraih rekan setimnya (Kencana Bike Malang), Sugianto “Hoho” Setyawan dengan margin 1 detik.

Namun, catatan waktu tercepat itu terjadi di kelas Open. Ini kelas eksebisi yang “mengadu” jawara DH Indonesia, atau sering disebut kelas Men Elite. “Sebelumnya kelas ini tidak ada dalam rencana kami. Namun karena kami kedatangan atlet sekelas Popo, maka kami adakan. Ini pun untuk memeriahkan saja,” ujar Ibunk, yang bersama rekan-rekan Hillander “amplopan” untuk memberi suatu bentuk penghargaan ke Popo.

Kelas Master terbagi jadi tiga kategori. Peserta berusia 35 tahun ke bawah masuk Master A. Peserta usia 36-40 masuk Master B. Sedangkan 41 tahun ke atas turun lomba di Master C. Dari ketiga kelas ini, catatan waktu tercepat antara Master A dan B hampir sama. Namun hebatnya, Master B yang notabene sudah bukan “anak muda” lagi, bisa mengalahkan waktu tercepat di Master A.

Peserta Master B yang tangguh itu adalah Zainul Siswanto. Pelatih Tim Kencana Bike Malang ini begitu cepat kala menuruni tangga dan melahap rintangan buatan. Catatan waktunya 1 menit 08,104 detik. Lebih cepat 0,450 detik dari peserta tercepat di Master A, Panca Melipat dari Elgato Yogyakarta.

Dari kelas Master C, nasib sial menimpa mantan downhiller 30 dunia, Chandra Ariavijaya. Memimpin di seeding run dengan waktu 1 menit 14,126 detik, Chandra harus rela posisi teratasnya direbut Andreas Kuhn (Banshee Team Bali) di final. Pentolan Charmdevo itu hanya mampu menduduki peringkat 5 dengan waktu 1 menit 27,703 detik. “Rantai saya sempat copot. Terus saya coba pasang kembali, tapi lumayan lama waktu yang terbuang,” ujar Chandra yang membela Tim Charmdevo-Oakley-Delmatic Bandung ini.

Aksi peserta Urban DH dalam menuruni tangga menjadi perhatian pengunjung. Wisatawan lokal maupun internasional sempat berhenti sejenak di belakang police line untuk melihat aksi downhiller. Melihat pemandangan seperti ini tentunya membanggakan buat perkembangan DH di Indonesia dan pihak GWK. Jadi, kejuaraan DH yang umumnya hanya disaksikan oleh komunitas pesepeda saja, dengan jenis permainan baru ini, masyarakat umum juga dapat menontonnya. Begitu pula dengan pihak GWK. Keberadaan event ini diyakini dapat menarik minat pengunjung, serta menjadi alternatif lain objek wisata GWK.

Angin segar pun berhembus. General Manager GWK Cultural Park Angkoso B. Soekadari mendukung pelaksanaan event urban DH ini. Ia mengusulkan agar event ini tetap dilaksanakan di GWK tahun depan. Senada dengan Angkoso, Ketua Harian Koni Bali, I Gusti Bagus Alit Putra juga mengambil sikap mendukung. Ia pun juga memberi usulan agar event Urban DH di Bali ini dapat dikembangkan menjadi program pariwisata di Bali. “Sebaiknya ini dapat dijadikan sarana berolahraga sambil berpariwisata dan pariwisata sambil olahraga,” ujar I Gusti Bagus Alit Putra ini dalam sambutannya.

Hasil Gotong-royong

Proyek pengerjaan lomba bertajuk GWK Peak A Boo XC Challenge dan Urban DH 2008 dikerjakan tanpa event organizer. Semua tenaga berasal dari anggota Hillanders dan volunteer. Mengenai anggaran, masing-masing anggota menyumbang dan ditambah dengan bantuan dari pihak sponsor: PT.Insera (Polygon Cycle) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Mengenai berapa jumlah patungan per anggota tidak perlu saya bahas. Menurut penjabaran Ibunk, semua anggota Hillanders intinya memberi sumbangsih. Dari semua anggota Hillanders menyumbang sesuatu demi kebutuhan lomba. Ada anggota yang kerja di Hard Rock Café, menyumbang venue (Hard Rock Café) untuk penyerahan hadiah dan closing ceremony. Ada yang kerja di bidang fotografi, memberikan jasa foto perlombaan. Ada yang kerja di web company, menyumbang satu web demi kebutuhan informasi peserta akan informasi lomba. Kemudian ada yang kerja di pembuatan kaos, menyumbang desain dan penjualan kaos event.

Kekompakan komunitas Hillanders itu patut ditiru. Mereka mengadakan lomba bukan untuk mencari keuntungan komersil. “Kami bikin event untuk tepo seliro ke rekan-rekan sepeda gunung yang ada di luar Bali,” ujar Ibunk. Makanya, tambah Ibunk, kalau dari segi perlombaan dan trek Urban DH ada yang salah, kami butuh masukan untuk event tahun depan. Jika sebagian ingin mengkritik, kasihlan kritik yang membangun. Karena berkat tambahan event ini, yang rencananya akan rutin digelar tiap tahunnya, makin menambah deretan lomba sepeda gunung di Indonesia. (Tomi Nala)

Monday, April 14, 2008

National Mountain Bike Series ke-2

Kabush Menang di Seri Kedua

Geoff Kabush, pembalap Tim Maxxis menang di kelas elite cross country (XC) pada pergelaran National Mountain Bike Series ke-2, di Fountain Hills, Arizona, Amerika Serikat (AS), 6 April lalu. Pembalap berusia 31 tahun itu menyisihkan Adam Craig (Tim MTB Giant) dengan margin 18 detik dan Jeremy Horgan Kobelsky (Subaru Gary Fisher) dengan selisih waktu 50 detik. Kabush, asal Kanada, mencatatkan waktu tercepat 1 jam 47 menit 19 detik.

“Saya selalu berusaha melewati Adam (Craig) lalu mempertahankan langkah begitu masuk bukit,” ujar Kabush usai masuk finish seperti dikutip cyclingnews.com. “Di bukit saya memacu sepeda 100 persen. Saya mendengar Adam berada di belakang sekitar 30 meter. Kami memacu sepeda 100 persen. Saya tidak berhenti hingga sampai di finish.”

Sementara, di bagian elite putri, duo pembalap Luna Womens MTB Team tampil sebagai juara. Georgia Gould berada di peringkat pertama dengan torehan waktu 1 jam 20 menit 14 detik. Menyusul rekannya Katerina Nash dengan selisih 1 menit 47 detik. Juara ketiga direbut pembalap Tim Dales Pale Ale, Dellys Starr dengan selisih waktu 2 menit dari Gould.

Ferry Sonic Ditahan

Mantan atlet sepeda gunung nasional Ferry Sonic ditahan petugas Polwiltabes Bandung, Jawa Barat. Ferry ditangkap di sebuah rumah di Jalan Braga, Bandung, 4 April lalu, karena positif mengkonsumsi narkoba jenis sabu-sabu. Selain itu, peraih emas Sea Games 1997 dan 1999 ini juga terbukti menyimpan satu paket sabu siap pakai dan peralatan hisapnya (bong) di rumah itu.

“Dari hasil tes urine, tersangka positif mengkonsumsi sabu-sabu. Tersangka mengaku sabu-sabu itu tidak dijual, melainkan dikonsumsi sendiri,” ujar Asep Jenal, Kasat Narkoba Polwiltabes Bandung, seperti dikutip antara.

Ferry Sonic adalah atlet cross country era 90-an. Kecepatan sepedanya saat itu ditakuti di kawasan Asia Tenggara. Prestasi terbaiknya, peringkat dua World Cup 1995. Karir balapnya berakhir tahun 2000, usai meraih emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Timur mewakili Jawa Barat..

Clerc Bantah Tudingan McQuaid


Patrice Clerc, 59 tahun, geram. Orang nomor satu di Amaury Sport Organization (ASO), sebuah organiser yang banyak menyelenggarakan event olahraga bergengsi, seperti Tour de France, akhirnya bicara perihal tudingan Presiden UCI Pat McQuaid. Clerc, berkata kepada media Perancis Le Monde, 4 April lalu, menolak tudingan McQuaid yang mengatakan kalau ASO bakal membentuk federasi balap sepeda internasional sebagai tandingan UCI.

“Saya ingin menyingkirkan kebohongan itu,” ujar Clerc dikutip bikeradar.com. Menurutnya, ASO tidak mempunyai ambisi mendirikan federasi balap sepeda internasional seperti yang dilontarkan McQuaid sebelum 4 April lalu.

Pernyataan Clerc dan tudingan McQuid makin mempertegas perseteruan kedua organisasi itu. Selama sebulan ini, ASO dan UCI kerap bermasalah. Konflik timbul saat UCI menyelenggarakan balapan kategori Pro Tour Series. Dalam balapan itu, UCI tidak mencantumkan event yang di organiser ASO, seperti; Tour de France, Paris Nice, Vuelta de Espana dan Paris Roubaix yang menyebabkan terpecah menjadi beberapa kategori.

“Selama setahun ini kami (ASO) selalu terlibat dengan UCI dalam transparan pekerjaan, demokrasi dan peraturan lomba. Sekarang siapa yang mengacaukannya! Padahal siapa yang pertama kali datang menawarkan kerjasama,” kata Clerc.

Bulan lalu UCI mengancam akan memberi sangsi anggotanya yang ikut balapan Paris Nice. Namun, semua anggota tidak mematuhinya. Saat itu McQuaid curiga kalau anggota dan pembalapnya diancam tidak bisa bertanding di Tour de France oleh ketua tour jika tidak ikut di Paris Nice. Tapi Clerc menyangkalnya. “ASO tidak mempergunakan Tour de France sebagai alat untuk memblokade para riders, manajemen ataupun sponsor saat itu.”

Sementara, mengenai tujuan UCI membentuk Pro Tour Series, McQuaid mengatakan, balapan kategori ini untuk memperbaiki mutu lomba dengan memperhatikan semua aspek, seperti menguniversalkan bersepeda..

Arsenal Dukung Kampanye Bersepeda


Kelak pendukung klub sepakbola Arsenal akan menggunakan sepeda saat menonton di Stadion Emirates, London Utara, Inggris. Usai menandatangani kerjasama dengan perkumpulan pesepeda Islington (sebuah distrik di London Utara), Arsenal mendukung kampanye bersepeda di jantung ibukota Inggris itu. Sebagai bentuk dukungan, seperti diwartakan bikeradar.com, 7 April lalu, klub besutan Arsene Wenger ini menyediakan lahan parkir sepeda di dalam stadion. Lahan parkir ini dapat menampung 85 sepeda lebih. Letaknya di sebelah Toko Arsenal di Drayton Park.

Kampanye bersepeda di London diserukan perkumpulan pesepeda Islington akibat kemacetan yang melanda kota itu. Seruan ini juga dalam kaitan Kampanye Sepeda London (London Cycling Campaign). Melalui media poster, seruan ini tersebar di kota London. Menariknya, gambar yang tertera di poster adalah tiga pemain Arsenal: Emmanuel Adebayor, Kolo Toure dan Robin Van Persie, yang sedang merayakan gol.

Women Road World Cup Seri ke-3


Arndt Juara, De Goede Memimpin

Seri ketiga Kejuaraan Balap Sepeda Jalan Raya Putri Seri Dunia (Women’s Road World Cup Series) mengukuhkan pembalap Tim High Road Woman, Judith Arndt sebagai juara. Mengambil tempat di Belgia, bertajuk Tour of Flanders, 6 April lalu, pembalap Jerman ini memenangi adu sprint dengan Kristin Armstrong di 500 meter menjelang garis finish. Arndth, 31 tahun, menyelesaikan lomba berjarak 114 kilometer dengan catatan waktu 3 jam 1 menit (rata-rata kecepatan 37.79 km perjam). “Ini berkat kerjasama tim,” ujarnya dikutip dari cyclingnews.

Keberhasilan Arndt melindas garis finish pertama tidak lepas dari bantuan rekan setimnya: Chantal Beltmann, Luis Keller dan Oenone Wood. “Saya selalu melakukan breakaway bersama Keller dan Beltmann,” ujar Arndt. Namun, Arndt baru bisa berada di grup terdepan saat memasuki rute menanjak di Muur-Kapelmuur. Di situ ia bahu membahu dengan Wood. Selain Arndt dan Wood, di grup ini terdapat Nicole Cooke (Halfords Bikehut), Kristin Armstrong, Christiane Soeder (keduanya dari Cervelo Lifeforce), Nicole Brandli (Belgia Cycling Team), Suzanne De Goede (Equipe Nürnberger Versicherung) dan Marta Bastianelli (Italian National Team).

Mereka bertahan bersama hanya beberapa kilometer. Setelah Bosberg, terjadi perubahan pembalap. Namun, Arndt tetap di grup depan. Pembalap lainnya: Wood, Armstrong, Kirsten Wild (AA Drink), Marianne Vos (DSB Bank), dan Suzzane De Goede (Equipe Nurnberger)

Mendekati finish, Armstrong mengambil inisiatif menyerang. Ia menambah kecepatannya dan keluar dari rombongan. Hanya Arndt yang berhasil mengimbangi kecepatan Armstrong. Terjadi adu sprint antara Armstrong dan Arndt sekitar 500 meter menjelang finish. Dan Arndt memenanginya. Di belakang menyusul Wild, Wood, dan Vos dengan selisih waktu 21 detik. “Kami tidak tahu bagaimana merayakan kemenangan ini. Kami bisa seperti ini berkat tim,” kata Arndt

Sedangkan De Goede yang masuk finish di posisi enam berhasil memimpin lomba secara keseluruhan. Peringkat kedua di tempati Arndt dengan poin 75, selisih 23 poin dari De Goede (98 poin).

Jalur Sepeda di Austin

Merubah Austin, sebuah kota di Texas, Amerika Serikat (AS), menjadi kota sepeda. Itu rencana Lance Armstrong, juara Tour de France tujuh kali (1999-2005). Mantan pembalap berusia 36 tahun itu ingin masyarakat Austin mengendarai sepeda secara rutin dalam berpergian ke kantor (bike to work) maupun jarak dekat, seperti yang dilakukan masyarakat Kota Portland, Oregon, AS, selama ini. Demi menunjang rencananya, ia pun mendirikan sebuah toko sepeda yang akan dibuka Mei tahun ini.

“Kota ini seperti bom waktu di pusat keramaian. Di mana masyarakatnya memiliki resiko tinggi dalam berkendaraan. Kita harus mempromosikan sepeda sebagai transportasi ke kantor,” ujar Armstrong dikutip austin360.com. Bahkan, pemerintah setempat sudah merencanakan membuat jalur sepeda (Armstrong bikeway) di sepanjang kota ini. Mellow Johny, nama toko Armstrong, akan menjadi pusatnya. Fasilitas yang diberikan toko ini meliputi: tempat penitipan sepeda, kamar mandi, loker, carmichael training system, coffee shop, dan penjualan sepeda.

Wednesday, March 26, 2008

Tanpa Astana dan Contador di TdF

Tanpa Tim Astana. Tanpa juara bertahan Alberto Contador (25). Tampaknya penggemar olahraga balap sepeda jalan raya terbesar di dunia Tour de France (TdF), sudah harus melupakan kedua nama itu. Diwartakan Agence France Press (AFP), Kamis, 20 Maret 2008 waktu setempat, tim yang menaungi Contador itu tidak diikutsertakan panitia.

Amaury Sport Organisation (ASO) selaku penyelenggara TdF 2008 tetap mencoret Tim Astana karena keterlibatannya dalam skandal doping dua tahun belakangan ini. Sebagai gantinya, panitia mengundang tiga tim dari divisi dua (continental pro) guna melengkapi 20 tim yang bakal bertanding 5 Juli nanti. Ketiga tim itu adalah Agritubel (Perancis), Slipstream (Amerika Serikat) dan Barloworld (Inggris Raya).

“Saya percaya ini adalah tim terbaik di dunia,” ujar Direktur Tour, Christian Prudhomme, yang juga menegaskan tidak akan menerima Astana.

Pengundangan tiga tim itu bukan tanpa alasan. Prudhomme tetap mempertahankan pilihannya kepada Tim Barloworld karena tim ini hadir di kejuaraan tahun lalu. Hasil yang diperolehnya adalah dua kemenangan etape dan pemegang king of the mountain jersey (raja tanjakan).

Sementara Agritubel dipilih karena adanya pembalap ternama, Christophe Moreu, juara nasional Perancis 2007. Slipstrem diundang karena filosofi timnya yang anti doping.

20 Tim di Tour de France:

Quick Step (Bel), Silence - Lotto (Bel), Team CSC (Den), Caisse d'Epargne (Spa), Euskatel - Euskadi (Spa), Saunier Duval - Scott (Spa), Bouygues Telecom (Fra), Credit Agricole (Fra), Cofidis Credit Par Telephone (Fra), Francaise Des Jeux (Fra), Ag2R - La Mondiale (Fra), Agritubel (Fra), Gerolsteiner (Ger), Team Milram (Ger), Barloworld (GBr), Lampre (Ita), Liquigas (Ita), Rabobank (Ned), High Road (USA), Slipstream Chipotle (USA)

Tenaga Cancellara Berbuah Juara

Fabian Cancellara menang di one day race (lomba satu hari). Dari Milano menuju Sanremo, menempuh jarak 298 kilometer, pembalap Swiss ini mengungguli Fillipo Pozzato (Liquigas), Phillippe Gilbert (Francaise des Jeux) dan Juara Paris Nice 2008, Davide Rebellin (Gerolsteiner). Dengan rata-rata kecepatan 41,142 kilometer perjam, berlangsung di Italia, 22 Maret 2008, Cancellara menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 7 jam 14 menit 35 detik. “Saya memulai lomba sebagai seorang favorit,” ujar road racer Tim CSC ini, dikutip dari cyclingnews.com.

Penentuan juara terlihat di 2000 meter menjelang finish, di sepanjang jalan Liguiran menuju Sanremo. Peleton terdepan, sekitar 15 pembalap sudah terbentuk sebelumnya. Di antara 15 pembalap itu terdapat Fabian Cancellara, Fillipo Pozzato, Phillipe Gilbert, David Rebelline, Mirco Lorenzetto (Lampre), Anthony Geslin (Bouygeus Telecom), Oscar Freire Gomez (Rabobank), Inigo Landaluze (Euskaltel-Euskadi), Thor Hushovd (Credit Agricole) dan Rinaldo Nocentini (AG2R La Mondiale).

Rebelline dan Pozzato sempat memisahkan diri dan memimpin grup terdepan itu. Tapi tidak beberapa lama, grup kembali menyatu. Setelah sebuah usaha yang dilakukan Landaluze juga tidak menemukan hasil bagus, saat itulah Cancellara menunjukan aksi superiornya. Juara Dunia Time Trial 2007 ini mengeluarkan seluruh tenaganya dan garis finisnya pun ia lindas. Ia meninggalkan Pozzato dan Gilbert yang memimpin peleton depan dengan selisih waktu 4 detik.

“Orang-orang memikirkan apa aku bisa melakukan sesuatu. Terlebih disana ada tanjakan dan ada juga buat sprint. Balapan ini benar-benar penuh tekanan. Tapi saya tetap tenang dan memenangkannya,” ujar pembalap kelahiran Swiss, 18 Maret 1981 itu.